Istanbul, Turki (dulu Konstantinopel) selalu menjadi kota yang penting, bahkan hingga saat ini dalam peradaban dunia. Daerah Istanbul berkali-kali berganti penguasa, mulai dari kerajaan Persia, Yunani, Romawi, Utsmani dan sekarang Republik Turki. Sejarah panjang ini membuat Istanbul kaya akan peninggalan-peninggalan besar arsitektural, salah satunya adalah Hagia Sophia atau Ayasofya dalam bahasa Turki.

Sejarah singkat Hagia Sophia

Hagia Sophia

Hagia Sophia

Hagia Sophia dibangun oleh kaisar Konstantin II dari kekaisaran Bizantium (Romawi Timur) pada tahun 360 M. Kaisar Konstantin adalah anak dari Konstantin I, kaisar yang membangun Konstantinopel (nama tua Istanbul). Hagia Sophia yang merupakan gereja Kristen Ortodoks dibangun diatas lokasi yang dulunya adalah kuil penyembahan pagan.

Nama Hagia Sophia berasal dari bahasa Yunani yang kalau diterjemahkan ke bahasa Indonesia menjadi “Kesucian dan kebijaksanaan”. Hagia Sophia mempunyai julukan Magna Ecclesia (bahasa latin dari Gereja Besar/Grand Church). Selama 900 tahun Hagia Sophia menjadi gereja terbesar kekristenan.

Hagia Sophia sempat beberapa kali mengalami kerusakan karena kerusuhan, kebakaran dan gempa bumi. Pada tahun 404 M sempat terbakar karena kerusuhan dan pada tahun 405 M kaisar Theodosius II memerintahkan untuk memperbaikinya kembali. Pada tahun 532 M,mengalami kerusakan hebat karena revolusi Nika. Kaisar Justinian II memerintahkan untuk memperbaiki dan selesai pada tahun 537 M. Perbaikan arsitektural di masa Justinian II inilah yang mayoritas warisannya masih dapat kita lihat di Hagia Sophia sekarang. Pada tahun 553, 557 dan 869 M Hagia Sophia sempat rusak karena gempa bumi yang membuat kubahnya jatuh. Pada tahun 1204 M, pada perang salib keempat, pasukan salib katolik Roma menduduki Konstantinopel dan Hagia Sophia diubah menjadi gereja katolik Roma. Pada tahun 1261 M, Bizantium merebut kembali Konstantinopel dan mengubah kembali Hagia Sophia menjadi gereja Kristen ortodoks. Pada tahun 1344 dan 1346 M Hagia Sophia kembali terkena gempa.

Pasukan Salib keempat menaklukkan Konstantinopel pada tahun 1204 M

Pasukan Salib keempat menaklukkan Konstantinopel pada tahun 1204 M

Pada 29-Mei-1453 M, setelah 54 hari pengepungan, kesultanan Turki Utsmani melalui sultan Muhammad Al Fatih menaklukkan Konstantinopel dan Hagia Sophia diubah menjadi Masjid Agung Kesultanan Utsmani.

Ilustrasi Sultan Muhammad Al Fatih memasuki Konstantinopel oleh Fausto Zonaro

Ilustrasi Sultan Muhammad Al Fatih memasuki Konstantinopel oleh Fausto Zonaro

Pada masa kesultanan Utsmani, untuk mendukung fungsinya sebagai masjid, menara-menara dibangun di sekitar Hagia Sophia, totalnya adalah empat menara. Diakhir abad ke-16 M, arsitek terkenal Utsmani, Mimar Sinan, atas perintah sultan Selim II, memperkuat struktur Hagia Sophia agar lebih tahan gempa. Pada tahun 1739 M, atas perintah sultan Mahmud I, di komplek Hagia Sophia dibangun madrasah (sekolah), dapur untuk memberi makan orang miskin dan perpustakaan umum. Perbaikan selanjutnya adalah di tahun 1847 M di masa sultan Abdul Majid, ia memerintahkan arsitek Swiss-Italia Gaspere dan Fossati. Mereka memperbaiki retakan-retakan dan memperkuat struktur kubah, mencabut plester-plester yang menutupi mosaik dan gambar di dinding, dengan bantuan Mustafa Izzet Effendi, ahli kaligrafi terkenal saat itu, menambahkan delapan kaligrafi raksasa yang dibuat diatas panel kayu bulat, masing-masing bertuliskan; Allah, nabi Muhammad SAW, Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Hasan dan Husein.

Kaligrafi Allah dan nabi Muhammad SAW

Kaligrafi Allah dan nabi Muhammad SAW

Di kompleknya juga terdapat makam empat sultan Utsmani yaitu Selim II, Mustafa I, Murad III dan Mehmed III. Karena kebesaran arsitekturnya, Hagia Sophia bisa dilihat dari jarak berkilometer-kilometer jauhnya bahkan dari selat Bosphorus yang membelah Istanbul menjadi Istanbul Eropa dan Asia.

Hagia Sophia (sebelah kanan) dilihat dari selat Bosphorus

Hagia Sophia (sebelah kanan) dilihat dari selat Bosphorus

Pada tahun 1935, dengan lahirnya Republik Turki, presiden pertama Turki, Mustafa Kemal Ataturk memerintahkan untuk mengubah Hagia Sophia menjadi museum. Dengan usia kurang lebih 1.500 tahun dan berganti-ganti penguasa, Hagia Sophia memiliki kekayaan sejarah dan arsitektural yang besar. Hal ini membuat UNESCO menetapkan Hagia Sophia sebagai salah satu warisan budaya dunia pada tahun 1985.

Informasi Kunjungan

Hagia Sophia berlokasi di komplek Sultanahmet (kota tua), letaknya berhadap-hadapan dengan Masjid Biru (Masjid Sultanahmet) dan berbelakang-belakangan dengan istana Topkapi, istana pemerintahan kesultanan Utsmani.

Tiket masuk ke Hagia Sophia adalah sebesar TL 25 dan hanya berlaku sekali masuk. Untuk mengunjungi makam sultan-sultan yang berada di kompleks yang telah disebutkan diatas gratis. Hagia Sophia buka setiap hari kecuali hari Senin, hari pertama bulan Ramadhan dan Idul Adha. Antara tanggal 15-April dan 1-Oktober (musim panas) buka dari jam 9 pagi sampai jam 7 malam, pengunjung terakhir masuk jam 6 sore. Antara tanggal 2-Oktober dan 14-April (musim dingin) buka dari jam 9 pagi sampai jam 5 sore, pengunjung terakhir masuk jam 4 sore.

Pengalaman pribadi

Gue pernah mengunjungi Hagia Sophia pada musim panas dan dingin dan secara pribadi gue lebih suka mengunjunginya di musim panas karena matahari bersinar cerah membuat Hagia Sophia dan kompleknya terlihat lebih indah bercahaya, taman-taman hijau, bunga-bunga bermekaran bahkan diawal-awal musim panas (Awal April) kita bisa lihat bunga Tulip yang merupakan bunga asli Turki bermekaran indah.

Hagia Sophia dan tulip

Hagia Sophia dan tulip

Cara untuk ke Hagia Sophia juga sangat gampang karena tentu saja ini adalah tujuan utama turis, pemerintah berkepentingan membuat akses ke Hagia Sophia gampang dan juga nyaman bagi turis. Jika anda tinggal di hotel daerah Sultanahmet (kota tua) anda tinggal jalan kaki. Waktu itu gue tinggal di hotel di daerah Taksim, Beyoglu, daerah Istanbul modern, daerah muda. Dari sana, dengan menggunakan Istanbulkart gue menggunakan metro dan sampai dalam waktu kurang lebih 45 menit. Saran gue, sebagai turis, untuk memudahkan transportasi, anda lebih baik membeli Istanbulkart, caranya bisa dilihat disini.

Dari Taksim anda pertama ke stasiun funicular (subway) Taksim dan naik sampai stasiun tram Kabatas. Dari Kabatas anda naik lalu turun di Sultanahmet. Di tram anda bisa melihat stasiun-stasiun mana saja yang akan dilewati dan mereka menandai setiap stasiun yang telah dilewati/sedang dilewati. Setelah turun di Sultanahmet anda tinggal jalan kaki selama 5 menit mengikuti petunjuk jalan, sangat gampang. Untuk pulang kembali ke Taksim, menggunakan cara yang sama dengan rute sebaliknya.

Gue juga pernah tinggal di Istanbul Asia, di daerah Kadikoy. Jika anda tinggal di Istanbul Asia, cara paling gampang dan cepat ke daerah Sultanahmet adalah dengan memakai feri. Ada banyak stasiun feri, waktu itu gue ke stasiun Bostanci, dari sana gue menuju ke stasiun feri Eminonu di Istanbul Eropa, waktu perjalanan 1 jam 30 menit karena gue memilih rute feri yang muter-muter ke Prince’s Island dulu, sekalian jalan-jalan. Dari Eminonu, sudah dekat dengan Sultanahmet, anda bisa berjalan 20 menitan atau menunggu tram lewat. Untuk pulang ke Istanbul Asia, menggunakan cara yang sama dengan rute sebaliknya tetapi anda perlu memperhatikan jadwal ferinya karena kalau tidak salah mereka hanya melayani penyeberangan sampai jam 6 sore. Untuk melihat rute-rute menuju Hagia Sophia bisa dilihat disini.

O ya, jangan lupa berfoto dengan sultan.

Sultan siap berfoto

Sultan siap berfoto