Pertempuran Yarmuk (636 Masehi/14 Hijriah)

Latar Belakang

Konflik antara kaum Muslim dengan kekaisaran Bizantium (Romawi Timur) disebabkan oleh gangguan-gangguan Bizantium dan sekutu Arabnya yang sering menyerang rombongan-rombongan pedagang Muslim yang berdagang ke Suriah dan mencapai puncaknya dengan dibunuhnya utusan nabi Muhammad SAW yang dikirim untuk berdakwah kepada raja Basra sekutu Bizantium pada tahun 630 M. Konflik Muslim-Bizantium akan berlangsung selama kurang lebih 900 tahun, diwariskan turun-temurun sampai Konstantinopel (modern Istanbul) ditaklukkan oleh Muhammad Al Fatih pada tahun 1453 M.

Perang Yarmuk adalah perang antara kaum Muslim dibawah pemerintahan Khulafaur Rasyidin yang dipimpin oleh kalifah Abu Bakar dengan kekaisaran Bizantium yang dipimpin oleh kaisar Heraklius. Perang ini berlangsung selama 6 hari (15-20 Agustus 636 M). Perang ini bertempat di sungai Yarmuk, Suriah modern.

Perang ini dianggap sebagai salah satu perang paling penting yang mengubah sejarah peradaban manusia karena menandakan kemenangan besar pertama yang dicapai oleh kaum Muslim dan membuka jalan untuk penaklukkan wilayah kekaisaran Bizantium selanjutnya (Suriah, Palestina dan Mesir).

Pergerakan Pasukan Muslim

Pada awal tahun 633 M atau 11 H, kalifah Abu Bakar berniat mengumpulkan seluruh pasukannya yang tercecer di beberapa pelosok Jazirah Arab dan memusatkannya untuk menyerang Suriah.

Panglima-panglima besar Muslim seperti Amr ibn al-Ash, Al-Walid ibn Uqbah sedang berada diluar Madinah, menjalankan misi ke Qudhaah. Khalid ibn Walid sedang berada di daerah Irak. Mereka sedang ditugaskan untuk memerangi kaum murtad yang melawan dan mengancam persatuan Negara Islam selepas meninggalnya nabi Muhammad SAW.

Setelah berhasil mengumpulkan panglima-panglima yang diinginkannya, Abu Bakar berkhutbah dan membangkitkan semangat kaum Muslimin untuk memerangi kekaisaran Bizantium yang terus merongrong keamanan kaum Muslimin.

Gelombang pertama

Abu Bakar mengutus Khalid ibn Said memimpin pasukan menuju Suriah untuk menghadang pergerakan pasukan Bizantium. Ketika melihat pasukan Bizantium yang sangat besar, ia menulis surat memohon bantuan kepada Abu Bakar. Maka Abu Bakar mengutus Ikrimah ibn Abu Jahal dan Al-Walid ibn Uqbah untuk membantu Khalid ibn Said di Suriah.

Gabungan pasukan ini masih kalah kuat dibandingkan dengan pasukan Bizantium, sempat terjadi pertempuran kecil dan kaum Muslim mengalami kekalahan.

Gelombang kedua

Mengetahui kesulitan yang dihadapi kaum Muslimin, Abu Bakar mengutus Yazid ibn Abu Sufyan membawa satu pasukan besar yang terdiri dari beberapa kelompok yang baru tiba ke Madinah setelah menuntaskan misi mereka. Pasukan gelombang kedua ini dibagi ke dalam tiga kelompok, masing-masing terdiri dari 5.000 pasukan. Pemimpin dari masing-masing kelompok adalah Yazid ibn Abu Sufyan, Amr ibn Al-Ash dan Syurahbil ibn Hasanah.

Gelombang ketiga

Ketika ada pasukan lain yang kembali ke Madinah, Abu Bakar segera mengutusnya untuk bergabung dengan pasukan yang telah dilepas terlebih dahulu. Diantara pasukan yang datang kemudian adalah pasukan Abu Ubaidah. Dengan bergabungnya pasukan Abu Ubaidah, jumlah total pasukan Muslimin adalah 24.000 orang, 100 orang diantaranya adalah veteran perang Badar. Abu Ubaidah selanjutnya diangkat oleh Abu Bakar sebagai panglima tertinggi misi ke Suriah ini.

Setiap pasukan menempuh rute perjalanan yang berbeda-beda. Yazid dan Syurahbil bergerak melalui Tabuk menuju pusat Suriah sementara Amr ibn Al-Ash melalui Teluk Uqbah menuju selatan Suriah.

Dalam perjalanannya ke pusat Suriah, pasukan Muslim menaklukkan kota-kota kecil yang dikuasai Bizantium. Dari penduduk kota-kota ini, pasukan Muslim mengetahui suasana psikologis kekaisaran Bizantium. Kaum Muslimin diuntungkan oleh situasi internal yang berlangsung di Suriah diantaranya:

1. Penduduk Suriah dan wilayah jajahan Bizantium merasa tidak puas dan membenci penguasa karena bertindak zalim dan sewenang-wenang. Akibatnya ketika penguasa Bizantium meminta bantuan kepada mereka, kebanyakan menolak membantu. Mereka merasa telah mengorbankan jiwa dan harta untuk menyokong peperangan Bizantium dengan Sassanid Persia yang telah berlangsung cukup lama (603 – 628 M) dan menguras banyak tenaga, pikiran, serta harta.

2. Penduduk Suriah dan wilayah jajahan Bizantium sedang dilanda konflik sosial yang tak kunjung reda akibat pertentangan agama. Karena itu mereka tidak pernah hidup dalam ketentraman dan kedamaian.

Ketika pasukan Muslim mendengar pasukan Bizantium sudah mulai bergerak, pasukan Muslim mengembalikan semua jizya (pajak perlindungan Islam) kepada penduduk Hims, Suriah dengan mengatakan, “Kami akan sangat sibuk untuk bisa membantu dan melindungi kalian, ambil kembali pajak ini dan lindungilah diri kalian sendiri.” Tetapi penduduk Hims mengatakan, “Kami lebih menyukai kepemimpinan kalian yang adil dibandingkan kepemimpinan Bizantium yang penuh penindasan. Kami akan mengusir pasukan Heraklius yang berusaha memasuki kota ini.” Penduduk Yahudi bangkit dan menambahkan, “Kami bersumpah demi Taurat, kami tidak akan membiarkan gubernur-gubernur Heraklius memasuki kota Hims sampai kami mati.”

Penduduk kota-kota lain yang dimasuki pasukan Muslim juga mengatakan hal yang sama, “Jika Heraklius dan pasukannya menang terhadap Muslim kita akan kembali ke kondisi kita yang semula yang penuh penindasan. Kita harus mempertahankan pemerintahan Muslim.”

Dan nantinya, ketika pasukan Muslim menang terhadap Bizantium, penduduk-penduduk kota membuka gerbang dengan penuh suka cita diiringi musik dan nyanyian-nyanyian.

 Pergerakan Pasukan Bizantium

Kabar mengenai pergerakan pasukan Muslim yang semakin mendekat itu sampai kepada Heraklius, kaisar Bizantium yang sedang berada di Al-Quds. Para petinggi kekaisaran Bizantium mengirim surat mengabarkan kondisi mereka di Suriah dan pergerakan pasukan Muslimin. Heraklius membalas surat tersebut sebagai berikut:

“Menurutku lebih baik kalian berdamai dan mereka mendapatkan setengah Suriah sementara setengahnya lagi tetap menjadi milik kalian, itu lebih baik daripada kalian memerangi dan dikalahkan mereka sehingga mereka mendapatkan seluruh Suriah dan setengah Romawi. Jika kalian berdamai, kalian masih memiliki Romawi secara utuh.”

Namun para petinggi kekaisaran Bizantium menolak usulan kaisar mereka. Tanpa menunggu persetujuan Heraklius, mereka memobilisasi pasukan dan mulai bergerak. Pasukan Bizantium dipimpin oleh Vahan, jenderal tertinggi di kekaisaran, orang kedua setelah Heraklius. Jumlah total pasukan Bizantium diperkirakan mencapai 240.000 orang.

Jumlah dan kecanggihan persenjataan pasukan Bizantium menggetarkan hati kaum Muslimin, sehingga mereka menyurati Abu Bakar meminta pendapatnya. Abu Bakar menjawab:

“Pasukan seperti kalian tidak akan terpengaruh oleh besarnya pasukan musuh. Sepuluh orang dapat mengalahkan seribu musuh jika kalian tidak melakukan kesalahan. Karena itu jauhilah kesalahan dan serta berkumpullah semua di Yarmuk agar kalian dapat saling membantu. Setiap orang dari kalian harus bersatu, tak boleh ada seorang pun yang terpisahkan.”

Pasukan Muslim berkumpul di Yarmuk seperti yang diperintahkan oleh Abu Bakar, begitu pula dengan Bizantium. Pasukan Muslim berhasil mendapatkan posisi berkemah yang sangat baik sehingga Amr ibn Al-Ash berkata:

“Saudara-saudaraku, bergembiralah karena, demi Allah, pasukan Romawi terkepung. Dan percayalah, tidak ada keberuntungan sedikit pun pada pihak yang terkepung.”

Khalid ibn Walid Bergabung

Perhatian Abu Bakar terhadap peperangan dengan Bizantium lebih besar dibandingkan dengan Sassanid Persia, karena itu ia segera menarik Khalid ibn Walid yang sedang berada di Irak dan memerintahkannya untuk bergerak ke Yarmuk.

Sesampainya di Yarmuk, Khalid mendapati setiap kelompok pasukan Muslim bergerak sendiri-sendiri di bawah panglimanya; Abu Ubaidah, Amr ibn Al-Ash dan Yazid ibn Abu Sufyan, tidak ada komando tertinggi. Karena itu Khalid berkata:

“Sesungguhnya hari ini termasuk diantara hari-hari Allah. Tidak dibolehkan ada di dalamnya kesombongan dan sikap melampaui batas. Maka ikhlaskanlah jihad kalian hanya untuk Allah.  Menghadaplah kepada Allah dengan amal kalian. Sesungguhnya hari ini adalah hari bagi orang-orang yang beramal. Orang-orang setelah kalian akan melihat perbuatan kalian pada hari ini. Maka ikutilah pendapat sahabat kalian ini.”

Mereka berkata, “Apa pendapatmu?”

Khalid menjawab:

“Apa yang kalian lakukan saat ini merupakan langkah terburuk yang dilakukan pasukan Muslim dan menguntungkan pasukan musuh karena jumlah mereka yang lebih banyak. Dan kalian telah mengetahui bahwa dunia ini telah memecah-belah kalian. Demi Allah, mari satukan barisan di bawah satu komando. Karena itu biarkanlah aku memimpin kalian semua hari ini. Esok harinya, biarkan panglima yang lain dan esok harinya lagi panglima yang lain lagi sehingga semua mendapatkan giliran.”

Mereka menyetujui pendapat Khalid dan mengangkatnya sebagai komandan tertinggi mereka. Khalid ibn Walid tercatat dalam sejarah sebagai salah satu jenderal terbesar karena kejeniusannya dalam taktik dan strategi perang. Ia adalah penakluk Suriah dan Sassanid Persia. Ia mendapat julukan Pedang Allah dan tidak pernah terkalahkan dalam setiap perang yang diikutinya.

Jalannya Peperangan

Dengan bergabungnya pasukan terakhir, pasukan Khalid, jumlah total pasukan Muslim berkisar 39.000 orang. Sementara itu pasukan Bizantium berjumlah 240.000 orang dengan persenjataan yang paling modern saat itu.

Melihat kegempitaan dan kedahsyatan pasukan musuh, hati kaum Muslim dihinggapi kegentaran. Abu Sufyan memompa semangat pasukan Muslimin:

“Wahai kaum Muslimin, telah hadir apa yang kalian lihat selama ini. Rasulullah SAW bersama kalian, dan surga ada di hadapan kalian. Setan dan neraka ada di belakang kalian.”

Abu Hurairah ikut memompa semangat kaum Muslimin:

“Berlomba-lombalah meraih tempat di sisi Allah di dalam surga yang penuh kenikmatan. Tidak ada lagi tempat yang paling baik untuk meraih keridaan Allah kecuali disini. Ketahuilah, sesungguhnya keutamaan dan kemenangan bersama orang-orang sabar.”

Abu Ubaidah berkata:

“Wahai para hamba Allah, tolonglah Allah, niscaya Allah akan menolong kalian dan menegakkan kaki kalian. Wahai hamba Allah, bersabarlah karena kesabaran menyelamatkan dari kekafiran, membawamu pada keridaan Allah, dan menutupi kekurangan. Lemparkanlah tombak kalian dan lindungilah diri kalian dengan perisai kalian. Bungkamlah mulut kalian kecuali untuk berzikir kepada Allah. Ingatlah Allah dalam hati kalian sehingga Dia membuat kalian berkuasa. Insha Allah.”

Seorang laki-laki berkata kepada Khalid, “Betapa banyak pasukan Romawi dan betapa sedikit pasukan Muslim.”

Khalid berkata:

 “Celakalah kau, apakah kau hendak membuatku takut terhadap bangsa Romawi? Ketahuilah, besarnya suatu pasukan karena keberanian dan kemenangan. Kecilnya pasukan karena kepengecutan, bukan karena jumlahnya.”

Ketika melihat musuh mulai bergerak mendekat, semua pasukan Muslim bergerak penuh semangat. Semua ketakutan telah diangkat dari hati. Mereka bertarung dan berperang bagaikan singa padang pasir. Tak ada kata lelah. Tak kenal kata gentar. Mereka terus berperang menghadapi pasukan Bizantium yang datang bergelombang hingga akhirnya Allah menetapkan kemenangan bagi kaum Muslim. Gugur sebagai syahid sekitar 4.000 orang Muslim sedangkan dari pihak musuh 120.000 orang gugur.

Mendengar kabar kekalahan ini, Heraklius merasa bingung, kaget dan sedih. Ketika sisa pasukannya datang menghadap, Heraklius berkata, “Ceritakanlah kepadaku kaum yang mengalahkan kalian, bukankah mereka manusia biasa seperti kalian?”

Mereka menjawab, “Benar.”

“Apakah jumlah mereka lebih banyak atau kalian yang lebih banyak?”

“Jumlah kami jauh lebih banyak dari mereka.”

“Lalu mengapa kalian kalah?”

Salah seorang pemimpin pasukan mereka berkata:

“Kami kalah karena mereka adalah kaum yang selalu shalat di malam hari dan berpuasa di siang hari, mereka menepati janji, serta menyuruh kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran, mereka saling menolong dan saling berbagi di antara mereka. Sebaliknya kami adalah sekumpulan peminum arak, berzina, melakukan segala yang diharamkan, mengkhianati janji, saling memurkai, menzalimi dan menyuruh kepada keburukan serta mencegah manusia dari segala yang diridhai Allah. Kami juga selalu membuat kerusakan di muka bumi.”

Heraklius berkata, “Engkau benar.” Selanjutnya ia mundur dari Antioch menuju Konstantinopel dan menyampaikan salam perpisahan, “Selamat tinggal Suriah yang indah untuk terakhir kalinya. Damai atasmu. Sesungguhnya aku tidak akan pernah melihatmu lagi.”

Penutup

Dengan kemenangan besar di Yarmuk, Suriah, pasukan Muslim hanya akan menghadapi pasukan-pasukan kecil Bizantium di masa depan karena Bizantium mengalokasikan mayoritas angkatan bersenjatanya di Yarmuk dan mayoritas terbunuh atau melarikan diri. Pada tahun 645 M, kaum Muslim telah menaklukkan semua wilayah modern Suriah, Palestina, Lebanon, Yordania dan Mesir. Serangkaian penaklukkan yang sangat cepat bagi sebuah Negara yang baru berusia 23 tahun melawan kekuatan super berusia 400 tahun.

Sumber

Destiny Disrupted: A History Of The World Through Islamic Eyes, Tamim Ansary, 2009.

Abu Bakr, Dr. Musthafa Murad, 2007.

The Origins of the Islamic State, Ahmad ibn-Jabir al-Baladhuri, trans. by P. K. Hitti and F. C. Murgotten, Studies in History, Economics and Public Law, LXVIII (New York, Columbia University Press,1916 and 1924)

 

Find me on twitter: @abiprahasto

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s