Muslim Sisilia

Latar belakang

Sisilia, Italia terletak di tengah-tengah laut Mediterania, lalu-lintas perdagangan yang sangat sibuk di abad pertengahan. Laut Mediterania menghubungkan pusat-pusat peradaban saat itu di Muslim Spanyol, Afrika Utara dan Timur Tengah. Oleh karena itu kontrol atas Sisilia menjadi sangat penting untuk setiap kekuatan yang ada di daerah tersebut, dalam hal ini Islam dan Bizantium.

Peta Sisilia
Peta Sisilia


Sisilia dibawah kepemimpinan Muslim

Pada tahun 827 Masehi, Asad ibn Furat, memimpin 10.000 pasukan Muslim dari Tunisia, Afrika Utara menuju Sisilia. Saat itu Tunisia berada dibawah kepemimpinan dinasti Aghlabid yang mengakui kekhalifahan dinasti Abbasiyah di Baghdad. Sedangkan Sisilia saat itu berada dibawah kepemimpinan kekaisaran Bizantium (Romawi). Kedua kekuatan itu, Abbasiyah yang mewakili Islam dan Bizantium sedang berperang.

Kota-kota di Sisilia jatuh ke tangan pasukan Muslim satu per satu, dimulai dari Mazara di tahun 827 M, Palermo di tahun 831 M dan akhirnya Enna di tahun 859 M yang mengartikan keseluruhan pulau berada dibawah kekuasaan Muslim. Penaklukkan Sisilia sangat tipikal mencirikan penaklukkan oleh Muslim sepanjang sejarah; tidak ada pembantaian warga sipil, penjaminan kebebasan beragama dan keamanan harta warga taklukkan.
Kehidupan bermasyarakat setelah penaklukkan juga mencirikan kehidupan di peradaban Islam dimana orang dari berbagai macam etnik dan agama berbaur bersama secara harmonis. Di jalan-jalan Palermo bisa ditemukan orang-orang Arab, Spanyol, Berber dan Afrika. Pendeta Theodosius dan Sophronius di tahun 883 M mendeskripsikan Palermo sebagai berikut:

“Penuh dengan warga lokal dan orang asing, terdiri dari orang Sisilia asli, Yunani, Italia, Yahudi, Arab, Berber, Persia, Tartar dan Negro.”

Seorang penjelajah Muslim, Ibn Hawqal pada tahun 972-973 M mendeskripsikan Palermo sebagai berikut:

“Masjid di dalam kota dan di luar tembok kota berjumlah lebih dari 300.”

Dia tidak pernah melihat masjid berjumlah sebanyak itu bahkan di kota yang berukuran dua kali lebih besar. Masjid-masjid tersebut tidak hanya berfungsi sebagai tempat beribadah tetapi juga sebagai sekolah. Di Palermo juga terdapat Universitas Balerm (Palermo) yang walaupun tidak sementereng Universitas Cordoba, Muslim Spanyol tetap merupakan Universitas favorit bagi pelajar-pelajar Eropa untuk menuntut ilmu.

Penjelajah Muslim lainnya, Ibn Jubayr yang berasal dari Andalusia, Muslim Spanyol mencatat Palermo sebagai berikut:

“Kota ini merupakan metropolis di pulau Sisilia, kaya, mewah, indah, dewasa dan segar. Kota yang kuno tetapi juga elegan, ramah dan sangat menggoda untuk menelusurinya. Banyak terdapat ruang terbuka, taman-taman hijau, jalan-jalan yang lebar, sempurna. Tata kota dan bangunan yang meniru gaya Cordoba di Spanyol, luar biasa. Wanita-wanita non-muslim mengikuti gaya wanita Muslim, pandai berbicara Arab, menutupi tubuhnya dan mengenakan kerudung.”

Selama 250 tahun di bawah kepemimpinan Muslim, Sisilia bertindak sebagai penghubung antara jalur-jalur perdagangan penting nan kaya di Mediterania. Pedagang-pedagang dari Muslim Spanyol, Afrika Utara dan Timur Tengah bertemu di kota ini, mereka berdagang kain tekstil, gula, rempah-rempah, lada, obat-obatan, sutra dan barang-barang eksotis lain. Pada akhir abad kesepuluh masehi, Sisilia merupakan produsen utama sutra yang diekspor ke seluruh penjuru dunia Muslim dan juga Eropa. Mata uangnya, rubayah dinar, sangat berharga dan banyak digunakan di Mesir, Suriah dan Palestina.

Dunia Muslim di abad ke-11

Kepemimpinan Muslim di Sisilia tidak bertahan selama kepemimpinan Muslim di Spanyol, 250 tahun berbanding 800 tahun. Kejatuhan kepemimpinan Muslim di Sisilia adalah di abad kesebelas masehi. Sebab jatuhnya Muslim Sisilia juga sangat tipikal kejatuhan peradaban Muslim, perpecahan.

Sebelum masuk lebih jauh ke kejatuhan Muslim Sisilia, mari kita lihat kondisi geopolitik di dunia Islam di abad kesebelas. Saat itu dunia Islam terbentang jauh dari Spanyol sampai India dan sejauh itu pula lah terbentang perpecahan di antara kaum Muslim. Di Spanyol, Muslim sibuk dengan perang saudara antar provinsi, fase ini dikenal dengan nama fase Taifa. Di Timur Tengah, Muslim sibuk dengan perang saudara antar pangeran-pangeran yang haus kekuasaan. Di Afrika Utara, Muslim sibuk dengan perang dengan kaum Syiah yang baru saja merebut Kairo dan mendirikan dinasti Fathimiyah.

Perpecahan ini tentu sangat menyenangkan musuh-musuh Islam, orang Eropa. Tidak mau melewatkan momentum yang sangat baik ini, orang-orang Eropa melancarkan serangan secara bersamaan ke seluruh dunia Islam. Di Spanyol, Eropa melancarkan Reconquista (Penaklukkan kembali) yang ditandai dengan jatuhnya Toledo di tahun 1085 M; di Timur Tengah, Eropa melancarkan perang Salib I yang ditandai dengan jatuhnya Al-Quds (Yerusalem) pada tahun 1095 M dan di Sisilia, Eropa melancarkan serangan melalui orang-orang Norman, orang-orang keturunan Viking yang berasal dari Normandia, Perancis Utara.

Kejatuhan Sisilia

Ketika orang-orang Norman mau menyerang Muslim Sisilia, saat itu Sisilia sedang berada di dalam perang yang tidak berkesudahan antara Sunni dan Syiah. Dinasti sunni Zirid (dinasti pengganti Aghlabid) berusaha merebut kembali Sisilia dari dinasti Syiah Kalbid yang didukung oleh dinasti Fathimiyah di Kairo.
Dinasti Kalbid yang menguasai Sisilia meminta tolong kepada orang-orang Norman untuk membantu mengusir dinasti Zirid dari Sisilia. Atas undangan mereka lah orang-orang Norman bisa dengan leluasa menyebrang ke Sisilia, akan tetapi apa yang terjadi adalah setelah membantu dinasti Kalbid sebentar dan memperoleh kekuatan, orang-orang Norman tidak hanya mengusir dinasti Zirid saja tetapi juga mengusir dinasti Kalbid, senjata makan tuan. Messina jatuh pada tahun 1061 M, Palermo jatuh pada tahun 1072 M dan 20 tahun kemudian keseluruhan pulau jatuh ke tangan orang-orang Norman.

Kehidupan setelah kejatuhan

Setelah kejatuhan Sisilia di tahun kesebelas masehi, Muslim masih akan berada di pulau tersebut sampai 200 tahun kedepan. Orang-orang Norman yang barbar mengizinkan Muslim yang lebih beradab untuk hidup di Sisilia dan membantu mereka membangun peradaban. Hal ini ditandai dengan banyaknya Muslim yang menjadi petinggi-petinggi di pemerintahan Norman Sisilia, membangun arsitektur-arsitektur yang indah seperti Zisa di Palermo, membangun rumah sakit-rumah sakit modern, bahkan ikut menjadi tentara yang loyal ketika orang-orang Norman berperang di Mesir pada tahun 1174 M.

Jubah Roger I, raja pertama Norman di Sisilia. Di rendanya terdapat tulisan Arab.
Jubah Roger I, raja pertama Norman di Sisilia. Di rendanya terdapat tulisan Arab.

art165c

Akhir dari Muslim di Sisilia

Pada abad kesebelas masehi, A. L. Udovitch, seorang sejarawan memperkirakan populasi Muslim di Sisilia adalah sekitar 500.000 orang. Di akhir abad ketigabelas masehi, populasi Muslim di Sisilia sudah tersapu menjadi 0 orang. Mengapa terjadi pengurangan populasi Muslim yang sangat drastis jika pemerintahnya, orang-orang Norman toleran, mengizinkan Muslim hidup bersama dan membangun peradaban? Pengurangan populasi Muslim ini karena tekanan keras dari Vatikan kepada para penguasa Norman untuk mengusir Muslim dari Sisilia.

Sebelum membahas lebih jauh mengenai tekanan-tekanan dari kepausan, perlu diketahui juga bahwasannya raja yang memerintah Sisilia tidak semuanya toleran seperti ketika dipimpin oleh William I (memerintah 1154-1166) dan William II (1166-1189) dimana banyak terjadi pembantaian dan pengusiran terhadap Muslim di Sisilia. Muslim diusir dari bagian Timur ke bagian Barat Sisilia. Situasi terus memburuk dan pada saat kepemimpinan Frederick II, raja Sisilia yang lebih toleran (memerintah 1220-1250), ia merelokasi Muslim ke Lucera, daerah pedalaman Italia.

Kondisi Muslim menjadi lebih buruk ketika mulai muncul tekanan-tekanan dari Vatikan. Dimulai oleh Paus Gregory IX (periode kepausan 1227-1241). Paus Gregory IX memaksa Frederick II untuk tidak hanya mengusir Muslim dari Sisilia tetapi juga Lucera sehingga mereka tidak mengganggu tanah Tuhan. Paus Gregory IX memaksa Frederick II untuk membantunya memindahkan agama Muslim menjadi Kristen tetapi Frederick II menolak. Tidak senang dengan respon Frederick II, pada tahun 1236 paus Gregory IX mendakwanya dengan banyak “Crimina Manifesta” atau daftar kejahatan di dalam suatu surat yang berjudul “Dum Preteritorum Consideratione”, yang didalamnya ada tertulis:

“Bangunan-bangunan yang dimana didalamnya nama Tuhan seharusnya diagung-agungkan terpaksa menjadi bangunan dimana nama Muhammad yang terkutuk diagungkan.”

“Muslim yang berada di tengah-tengah kerajaan Tuhan, dapat dengan mudah merusak keyakinan Katolik dengan racun kekafiran mereka. Kemudian bahaya yang lebih besar menanti ketika orang-orang Kristen berbaur dengan mereka. Melalui pertemanan dengan orang-orang Pagan Muslim, Jamaah Tuhan akan lari dari tangan Tuhan.”

Sepeninggal Paus Gregory IX, tekanan untuk mengusir Muslim dari Sisilia dan Italia dilanjutkan oleh Paus Innocent IV (1243-1254), Paus Boniface VIII (1294-1303) dan Paus Clement V (1305-1314). Paus Clement V bahkan mengatakan kehadiran Muslim di tengah-tengah Kristen sebagai “Penghinaan kepada Tuhan”.

Akhirnya pada awal 1300-an M, 200 tahun setelah kejatuhan Sisilia ke tangan orang-orang Norman, seluruh 500.000 Muslim terusir dari Sisilia dan Italia

Sumber

J. D. Breckenridge: The Two Sicilies
J.P. Lomax: Frederick II
A.L. Udovitch: Islamic Sicily
RJC Broadhurst: The travels of Ibn Jubayr

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s