Istana Topkapi

Istana Topkapi
Istana Topkapi

Istana Topkapi merupakan salah satu istana terbesar dan terindah di dunia yang masih bertahan sampai sekarang, ia terletak satu komplek dengan Hagia Sophia dan Masjid Biru. Dengan letak di salah satu bukit terindah yang berada persis di sisi selat Bosporus, pemandangan dari istana Topkapi sangat indah. Dari istana ini anda bisa melihat selat Bosporus, laut Marmara dan tanduk emas (Golden Horn). Komplek istana dikelilingi oleh tembok besar sepanjang 5 km.
20130222_165954

Dengan takluknya Konstantinopel (nama tua Istanbul) pada 29-Mei-1453, sultan Muhammad Al Fatih memindahkan ibu kota kesultanan Utsmani dari Edirne ke Istanbul. Istana pemerintahan pertama dibangun di tengah Istanbul, istana kedua dibangun di bukit di sisi selat Bosphorus, istana ini yang bernama istana Topkapi. Pembangunan dimulai pada tahun 1459 dan selesai pada tahun 1465. Antara tahun 1465 sampai 1856 istana Topkapi menjadi pusat pemerintahan Utsmani sebelum pindah ke istana Dolmabahce. Pada tahun 1924, istana Topkapi diubah menjadi museum atas perintah Mustafa Kemal Ataturk dan pada tahun 1985 UNESCO memasukkan istana Topkapi menjadi salah satu warisan budaya dunia.

Di masa aktifnya, istana ini berfungsi sebagai tempat tinggal sultan, tempat pendidikan sultan dan pejabat kesultanan, pusat pemerintahan kesultanan, tempat rapat menteri dan pusat perbendaharaan kesultanan. Seiring berjalannya waktu, di istana dibangun Harem (tempat tinggal istri dan selir sultan). Melihat fungsi-fungsi tersebut, dapat disimpulkan istana Topkapi merupakan jantung dan sekaligus otak kesultanan Utsmani selama kurang lebih 400 tahun. Dari sini kesultanan Utsmani memerintah wilayah yang mencakup tiga benua; Asia, Afrika dan Eropa.

Komplek Istana Topkapi terbagi menjadi empat area:

1. Area pertama

Area ini merupakan area paling luar dari komplek istana, untuk memasuki area ini melalui gerbang yang bernama “Gerbang Kerajaan”.

Gerbang Kerajaan
Gerbang Kerajaan

Di area pertama ini anda bisa melihat tempat membuat roti kesultanan, tempat percetakan uang, markas penjaga istana dan gudang kayu bakar. Di area ini juga anda bisa melihat Hagia Irene yang dulunya gereja Romawi dan museum Arkeologi.

2. Area kedua

Area kedua adalah area istananya sendiri, anda memasukinya melalui “Gerbang Penghormatan”.

Gerbang Penghormatan
Gerbang Penghormatan

Area kedua ini merupakan pusat administrasi dan pemerintahan kesultanan. Yang bisa memasuki area ini hanya sultan, warga yang telah mendapatkan izin khusus dan perwakilan pasukan Janisari pada waktu gajian. Penerimaan utusan negara asing juga dilakukan di area ini. Halaman area ini saking besarnya bisa memuat sampai 10.000 orang. Di dalam area kedua ini terdapat Harem, tempat tinggal istri, selir, ibu dan anggota keluarga sultan.

Pintu masuk Harem
Pintu masuk Harem

Di dalam Harem
Di dalam Harem

3. Area ketiga

Area ketiga adalah area pribadi sultan, orang yang memasukinya harus memiliki izin khusus. Di area ini terdapat universitas pribadi sultan, ruang tahta, ruang perbendaharaan. Sultan menerima duta besar dari negara asing di ruang tahta. Dengan alasan keamanan dan penjagaan rahasia kesultanan, para penjaga di ruang tahta dipilih yang bisu dan tuli.

Di area ini anda bisa melihat koleksi kostum sultan sejak abad ke-15, ada kurang lebih 2.500 kostum buatan tangan disini.

Di ruang perbendaharaan, anda bisa melihat koleksi harta Utsmani. Harta-harta ini berasal dari berbagai Negara yang dulu sempat berhubungan diplomatik dengan kesultanan Utsmani seperti Eropa, India, Cina dan Afrika. Anda bisa melihat berlian, perabot emas, emerald, rubi, senjata dan lain-lain.

Disini juga terdapat peninggalan-peninggalan bersejarah umat awal Islam seperti pedang, busur panah, mantel, helaian rambut, cetakan kaki nabi Muhammad SAW. Juga terdapat cetakan pertama Al Quran dan kunci Kabah.

4. Area keempat

Area keempat berisi banyak pavilion dan taman-taman cantik dengan pemandangan indah ke selat Bosporus, Tanduk Emas, Galata dan bukit-bukit hijau. Dahulu digunakan sebagai tempat bersantai sultan dan keluarga.

Paviliun
Paviliun

Di area keempat ini terdapat restoran yang menyediakan masakan-masakan khas kesultanan yang buka sejak abad ke-19, pelayan di restoran ini menggunakan baju khas kesultanan. Pastikan anda mencoba makan disini dan merasakan atmosfer makan di masa kejayaan Utsmani.

Restoran Konyali
Restoran Konyali

20130222_161144

Advertisements

24 Ilmuwan Muslim Di Bulan

Bulan
Bulan

Kontribusi besar peradaban Islam di abad pertengahan kepada dunia modern tidak bisa disangkal. Kontribusi mereka menjadi pondasi bagi perkembangan ilmu pengetahuan di era modern. Dan untuk mengapresiasi jasa-jasa peradaban Islam terhadap ilmu pengetahuan, International Astronomical Union menamai 24 kawah di bulan dengan nama ilmuwan Muslim. Berikut adalah nama-nama mereka dengan penjelasan singkat kontribusinya:

1. Al-Ma’mun, Baghdad (786-833 M)

Beliau adalah anak dari khalifah Harun Al Rasyid dari kekhilafahan Abbasiyah. Beliau adalah penggagas Rumah Kebijaksanaan/Baitul Hikmah/House Of Wisdom di Baghdad pada tahun 830 M. Baitul Hikmah adalah tempat para ilmuwan besar Muslim belajar dan modelnya akan diikuti oleh kota-kota besar Muslim lainnya di abad-abad berikutnya. Berkat dukungan beliau lahir lah ilmuwan-ilmuwan Muslim yang memancarkan cahaya kepada dunia yang kontribusinya diteruskan oleh ilmuwan barat saat ini.

2. Al-Basri, Irak (740-815 M)

Beliau adalah seorang astronom dan astrolog. Dua bukunya yang terkenal diterjemahkan ke bahasa Latin pada abad ke-16 M, “De Scientia Motus Orbis” dan “De Composition et Utilat Astrolotic”. Beliau mengenalkan ilmu astronomi kepada dunia. Jejaknya akan diikuti astronom-astronom lain. Beliau juga mengenalkan horoskop.

3. Al-Khwarizmi, Khwarizm (N/A-825 M)

Beliau adalah seorang matematikawan dan astronom. Beliau adalah penemu aljabar, algoritma, penggunaan angka 0-9 dalam operasi matematika. Kontribusinya termasuk kepada semua yang berhubungan dengan matematika termasuk internet, twitter, facebook yang menggunakan algoritma pemrograman. Matematika adalah induk ilmu pengetahuan.

4. Al-Farghani, Persia (N/A – 840 M)

Beliau adalah seorang astronom yang belajar di Baitul Hikmah, Baghdad. Bukunya yang berjudul “Kitab fi Harakat Al-Samawiyah wa Jamawi Ilm Nujum” adalah inspirasi utama ilmuwan asal Italia yang bernama Dante Aliegheri. Ia memperkenalkan istilah azimuth, zenith, dan kontribusi lainnya.

5. Abbas ibn Firnas, (Andalusia, 810-887 M)

Beliau adalah seorang penemu. Menurut sejarawan Philip Hitti, beliau adalah orang pertama yang bereksperimen untuk terbang. Kontribusinya di dunia modern adalah semua yang bisa terbang seperti pesawat, helikopter dan ulang-alik.

6. Thabit ibn Qurra, (Irak, 836-901 M)

Beliau adalah seorang ilmuwan dan astronom. Beliau menerjemahkan banyak buku pengetahuan dari bahasa Yunani ke bahasa Arab sehingga buku-buku Yunani seperti karya Archimedes, Euclid, dan lain-lain yang terancam punah di abad ke-8 M masih bisa anda baca saat ini. Selain itu ia menghitung revolusi bumi, teori angka-angka, geometri.

7. Al-Battani, (Harran, 858-929 M)

Beliau adalah seorang matematikawan dan astronom. Ia menciptakan alat-alat astronomi yang sangat akurat. Beliau memperkenalkan trigonometri, menghitung hari dalam satu tahun, menghitung jarak bumi ke matahari. Beliau menginspirasi Galileo, Keppler dan Copernicus.

8. Al-Sufi, (Persia, 903-986 M)

Beliau adalah seorang astronom. Bukunya yang berjudul “Suwar Al-Kawakib Al-Thabit” menjadi dasar ilmu astronomi modern. Beliau membuat daftar bintang lengkap dengan posisi dan jaraknya, rasi bintang, menemukan galaksi Andromeda, dan lain-lain.

9. Abu Al-Wafa, (Persia, 940-998 M)

Beliau adalah seorang matematikawan dan astronom. Beliau adalah orang pertama yang membuat wall quadrant untuk mengamati bintang-bintang di observatorium. Beliau juga penerjemah buku-buku Yunani karya Euclid dan Diophantes dan menyempurnakannya. Karya-karyanya berpengaruh untuk ilmu trigonometri (sin, cos, tan), observatorium, dan lain-lain.

10. Ibn Yunus, (Mesir, 950-1009 M)

Beliau adalah seorang astronom. Beliau adalah orang pertama yang menjelaskan 40 posisi planet dan 30 jenis gerhana bulan.Beliau juga membuat tabel untuk menentukan posisi bulan.

11. Al-Biruni, (Afghanistan/India, 973-1048 M)

Beliau adalah seorang astronom, matematikawan, geografer. Beliau menemukan cara menghitung jarak antar kota, radius bumi. Karyanya berkontribusi kepada GPS dan memungkinkan anda bisa check-in di foursquare.

12. Ibn Haytam, (Iraq, 987-1038 M)

Beliau adalah seorang matematikawan, astronom dan fisikawan. Beliau adalah penemu ilmu optik dan menemukan bahwasannya cahaya berjalan secara lurus. Kontribusinya bisa anda lihat pada kamera dan kamera video.

13. Ibn Sina (Iran, 980-1037 M)

Beliau adalah seorang filsuf dan ahli pengobatan. Beliau menekankan pentingnya berpikir rasional dan logis. Bukunya The Canon Of Medicine menjadi rujukan dunia kedokteran selama berabad-abad.

14. Al-Bakri, (Andalusia, 1010-1094 M)

Beliau adalah seorang geografer. Beliau menulis buku tentang Eropa, Afrika Utara dan jazirah Arab. Beliau menulis setiap kota, karakteristik, dan kehidupan sehari-harinya.

15. Al-Bitruji, (Andalusia, N/A-1100 M)

Beliau adalah seorang astronom. Bukunya “Kitab Al-Hayah” adalah rujukan utama ilmu astronomi di abad ke-13 di Eropa. Beliau memperkenalkan pergerakan planet.

16. Al-Zarqali, (Andalusia, 1028-1087 M)

Beliau adalah seorang matematikawan dan astronom. Beliau menemukan instrumen astronomi yang bernama Meja Toledo. Ia adalah inspirasi utama Copernicus.

17. Omar Khayyam, (Persia, 1048-1031 M)

Beliau adalah seorang matematikawan, astronom dan sastrawan. Beliau membuat tabel astronomi, menulis tentang aljabar dan menentukan satu tahun sama dengan 365,24219858156 hari. Pada abad ke-19 diketahui 1 tahun sama dengan 365,242190, beda 0.000006 dari perhitungan beliau. Di zaman modern karyanya ada di imu matematika seperti persamaan kubik, GPS.

18. Ibn Rushd, (Andalusia, 1126-1198 M)

Beliau seorang filsuf. Beliau membangkitkan kebebasan berpikir. Hal ini membuat orang Eropa kembali tertarik untuk belajar filsafat. Dengan berpikirnya orang Eropa, mereka akan mengalami Renaisans dalam beberapa abad kedepan.

19. Jabir ibn Aflah, (Andalusia, pertengahan abad ke-12 M)

Beliau adalah seorang astronom. Beliau adalah orang pertama yang membuat instrumen untuk menjelaskan pergerakan benda-benda angkasa.

20. Nasiruddin Tusi, (Khurasan, 1201-1274)

Beliau adalah seorang ilmuwan. Beliau adalah menterinya Hulagu Khan penakluk Mongol. Beliau membangun observatorium di Irak, membuat katalog bintang-bintang dan instrumen lain yang digunakan berabad-abad dari Cina sampai Eropa.

21. Al-Marrakushi, (Maroko, N/A-1282 M)

Beliau adalah seorang matematikawan dan astronom. Beliau orang pertama yang memperkenalkan almanak dan mengembangkan ilmu aljabar.

22. Ismail Ibn Abu Al-Fida, (Suriah, 1273-1331 M)

Beliau adalah seorang geografer. Beliau adalah ilmuwan terakhir yang lahir dari Baitul Hikmah, menyusul hancurnya Baghdad oleh Mongol. Bukunya “Mukhtasar Tarikh Al-Bashar” sangat terkenal. Bukunya menjelaskan tentang sejarah peradaban manusia sampai tahun 1329 M sehingga sejarah mereka bisa sampai ke kita di zaman sekarang.

23. Ibn Battuta, (Maroko, 1304-1377 M)

Beliau adalah seorang petualang. Catatan perjalanannya membantu dunia mempelajari sejarah peradaban di zaman pertengahan. Perjalanannya mengelilingi dunia melebihi jarak yang ditempuh Marco Polo. Total jarak yang ditempuh adalah 120.000 km, tiga kali keliling bumi.

24. Ulugh Begh, (Samarkand, 1393-1494 M)

Beliau adalah seorang sultan, matematikawan, astronom. Beliau membangun observatorium di Samarkand, Uzbekistan yang sangat akurat. Beliau juga menyusun katalog bintang-bintang. Beliau mengakuratkan nilai sinus dan tangent dan mengembangkan ilmu trigonometri.

Muslim Dan Pelestarian Ilmu Pengetahuan

Menurut Eropa (barat), ilmu pengetahuan zaman sekarang ini secara langsung semuanya berdasarkan warisan pengetahuan Yunani kuno. Perkembangan pengetahuan Yunani terjadi di abad ke-6 sebelum Masehi (SM) sampai abad ke-2 Masehi (M). Pengetahuan ini hilang antara tahun ke-5 M sampai tahun ke-15 M dan ditemukan kembali oleh barat pada abad ke-16 M. Ada kekosongan pengetahuan selama 1.000 tahun.

Sejarah Ilmu Pengetahuan Menurut Barat
Sejarah Ilmu Pengetahuan Menurut Barat

Kondisi Umum Eropa Abad ke-5 M

Pada tahun 476 M, kekaisaran Romawi di Eropa Barat runtuh oleh peperangan internal dan invasi orang-orang barbar Eropa. Tahun runtuhnya kekaisaran Romawi ini oleh sejarawan dijadikan awal sebagai suatu masa yang dikenal dengan nama Zaman Kegelapan (The Dark Ages), yaitu zaman kemunduran ekonomi, ilmu pengetahuan, seni, budaya dan kehidupan sosial masyarakat. Selama 1.000 tahun kedepan Eropa berhenti membaca dan menulis dan hanya disibukkan dengan berperang satu sama lain.

Eropa di abad ke-8 M terpecah-pecah dan saling berperang
Eropa di abad ke-8 M terpecah-pecah dan saling berperang

Berdasarkan kondisi umum Eropa ini, muncul pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:
1. Bagaimana mungkin Eropa yang selama 1.000 tahun tidak belajar dan selalu berperang lalu tiba-tiba dalam satu detik menjadi pintar?
2. Bagaimana mungkin catatan-catatan pengetahuan Yunani dapat tetap utuh dalam waktu 1.000 tahun ketika tuannya sendiri tidak menyenangi pengetahuan dan lebih menyenangi perang? Siapa yang menjaganya?
3. Bagaimana mungkin pengetahuan Yunani bisa selamat selama 1.000 tahun ketika setiap ksatria Eropa dalam menaklukkan kota selalu membakar buku-buku dan menghancurkan bangunan-bangunan?
4. Bagaimana mungkin pengetahuan Yunani yang ibaratnya baru sampai pada bab 1 pada abad ke-5 M lalu saat ditemukan kembali pada abad ke-16 M sudah sampai bab 5? Siapa yang melanjutkannya?

Kondisi Umum Dunia Islam Abad ke-8 M

Zaman Kegelapan hanya terjadi di Eropa, di saat yang sama, di belahan bumi lainnya, di daerah bergurun tandus ada suatu peradaban yang sedang mengalami Zaman Keemasan (Golden Age), peradaban Islam. Zaman Keemasan adalah zaman kemajuan ekonomi, ilmu pengetahuan, seni, budaya dan kehidupan sosial masyarakat. Zaman keemasan peradaban Islam berlangsung kira-kira 600 tahun dari abad ke-8 M sampai abad ke-14 M di seluruh wilayah dunia Islam dari perbatasan Cina sampai Spanyol.

Dunia Islam Pada Pertengahan Abad Ke-8 M
Dunia Islam Pada Pertengahan Abad Ke-8 M

Dengan semakin meluasnya wilayah Islam pada abad ke-8 M, dunia Islam bersinggungan dengan peradaban-peradaban lain yang lebih tua seperti India, Persia dan Yunani. Persinggungan ini tidak hanya berefek kepada masuknya budaya mereka dalam kehidupan sehari-hari Muslim tetapi juga masuknya pengetahuan-pengetahuan yang mereka miliki. Muslim terkesima ketika tiba-tiba akses mereka terhadap ilmu pengetahuan terbuka lebar. Mereka sangat bersemangat karena Al Quran dan nabi Muhammad SAW mengajarkan pentingnya mencari ilmu pengetahuan, mempelajari dan mengajarkannya. Allah SWT bahkan menjanjikan siapa yang berilmu, derajatnya akan dinaikkan.

Berdasarkan insentif dari Allah SWT ini, pemimpin-pemimpin Muslim mendorong rakyatnya untuk belajar. Oleh karena itu sepanjang sejarah dunia Islam pusat-pusat pembelajaran merata dari ujung timur kekhalifahan di Samarkand, Asia Tengah sampai ujung barat di Kordoba, Spanyol.

Salah satu contoh inisiatif yang melegenda adalah di zaman kekhalifahan Abbasiyah ketika pada tahun 830 M khalifah Al-Ma’mun membangun Rumah Kebijaksanaan (Bayt Al-Hikmah/House Of Wisdom) di Baghdad. Rumah ini didedikasikan sebagai tempat belajar, di dalamnya terdapat masjid, sekolah dan perpustakaan. Menariknya, tidak hanya Muslim yang berkarya disini, kepemimpinan Muslim yang toleran memungkinkan Kristen dan Yahudi juga belajar dan bersama-sama membangun peradaban. Rumah Kebijaksanaan ini pantas mendapatkan apresiasi yang tinggi karena selain sebagai rumah pembelajaran pertama yang akan ditiru kota-kota Islam lainnya juga memungkinkan berlanjutnya perkembangan ilmu pengetahuan yang sempat mandek setelah Romawi Barat runtuh dan sempat dirusak oleh kekaisaran Bizantium (Romawi Timur).

Bayt Al-Hikmah di Baghdad
Bayt Al-Hikmah di Baghdad

Pelestarian Pengetahuan

Salah satu pengetahuan peradaban tua yang dipelajari oleh Muslim adalah peradaban Yunani. Muslim menerjemahkan karya-karya Aristoteles, Plato, Hipocrates dan lain-lain ke dalam bahasa Arab. Tidak hanya menerjemahkan, Muslim juga memberi komentar, mengoreksi kesalahan-kesalahan, menyempurnakannya bahkan menemukan dan memperkenalkan ilmu-ilmu baru.

Penerjemah Muslim yang terkenal diantaranya adalah Hunayn Ibn Ishaq (808-873 M) yang menerjemahkan karya Hipocrates, “Corpus Hippocraticum, Prognostic”. Selain ia ada juga Al Kindi dan Yuhanna Ibn Bukhtishu.

Lembaran Hasil Terjemahan Hunayn Ibn Ishaq
Lembaran Hasil Terjemahan Hunayn Ibn Ishaq

Muslim Sedang Belajar Di Bayt Al-Hikmah
Muslim Sedang Belajar Di Bayt Al-Hikmah

Tidak mau kalah dengan Baghdad, pusat pembelajaran juga dibangun di Kairo dengan nama yang sama, Rumah Kebijaksanaan (Bayt Al-Hikmah/The House Of Wisdom). Sejarawan Al-Maqrizi pada tahun 1004 M menulis tentang Rumah Kebijaksanaan yang ada di Kairo sebagai berikut:

“Siapapun yang ingin mengkopi buku di perpustakaannya dia bebas melakukannya, siapa pun yang ingin membaca buku dia bebas melakukannya. Orang mempelajari Al Quran, astronomi, bahasa dan kedokteran. Interiornya dihiasi karpet tebal, semua pintu dan koridor ruangan memiliki tirai indah, di dalamnya terdapat manajer, pegawai administrasi, pelayan untuk mengelolanya dan memastikan kenyamanan orang yang sedang belajar. Rumah ini bebas dimasuki siapa saja yang ingin memasukinya.”

Di wilayah yang berbatasan langsung dengan Eropa, pusat pembelajaran terdapat di Andalusia, Spanyol dan Sisilia, Italia. Dari kedua daerah ini lah pengetahuan Muslim akan menyebar ke seantero Eropa.

Sejarawan Gustave Le Bon mengatakan,

“Di masa Eropa tenggelam ke dalam kegelapan dan barbarisme, Baghdad dan Kordoba, dua kota terbaik dunia Islam menjadi pusat peradaban yang menerangi seluruh dunia dengan kejeniusannya.”

Jacques menulis,

“Selama 500 tahun dunia Islam memimpin dunia dengan kekuatannya, kejeniusannya dan kemajuan peradabannya. Mewarisi filosofi dan pengetahuan Yunani kuno dan setelah mengembangkannya Muslim menyebarkan pengetahuan ini ke Eropa. Hal ini merubah kehidupan Eropa selamanya.”

Hasil pembelajaran pengetahuan Yunani kuno ini disimpan oleh Muslim dengan baik di perpustakaan di seantero dunia Islam. Pada abad ke-10 M di Kordoba, Spanyol, “khalifah” Al Hakam memiliki perpustakaan dengan koleksi 600.000 buku dan kota Kordoba sendiri setiap tahun menghasilkan 60.000 judul buku sementara Eropa masih belajar membaca dan menulis. Di Baghdad, koleksinya tentu sama banyaknya mengingat ketika orang-orang Mongol membuang buku-buku ke sungai Eufrat pada tahun 1258 M, air sungai menjadi hitam karena tinta untuk beberapa hari.

Sardar & Davies dalam bukunya, “The Legacy Of Islam: A Glimpse From A Glorious Past” menggambarkan kondisi Baghdad dan kota-kota di Timur Tengah:

“Ada sangat banyak perpustakaan di dunia Islam. Di Baghdad tercatat sebanyak 36 perpustakaan pada pertengahan abad ke-13 dan itu belum termasuk perpustakaan di Rumah Kebijaksanaan.”

“Perpustakaan yang sama banyak ditemukan di Kairo, Aleppo dan kota-kota besar di Iran, Asia Tengah. Selain perpustakaan pusat milik kekhalifahan, terdapat jaringan perpustakaan yang besar di banyak kota-kota besar yang memiliki koleksi-koleki buku prestisius yang menarik banyak ilmuwan muslim untuk datang.”

Sejarawan S. P. Scott dalam bukunya, “The History of Moorish Empire In Europe” menggambarkan kondisi Kordoba di abad ke-10 M:

“Disaat raja-raja di Eropa tidak bisa membaca dan menulis, raja di Muslim Andalusia memiliki perpustakaan pribadi dengan 600.000 koleksi buku. Disaat 99% orang Eropa tidak bisa membaca dan menulis, kota Kordoba di Muslim Andalusia memiliki 800 sekolah, dan tidak ada satu pun desa di Muslim Andalusia yang tidak menikmati sekolah ini bahkan orang yang paling miskin sekalipun. Sangat sulit di saat itu untuk menemukan bahkan petani yang tidak bisa membaca dan menulis.”

Thomson dalam bukunya “The Muslims In Andalusia” menulis:

“Saat matahari terbenam, Eropa tenggelam dalam kegelapan, sementara Kordoba bercahaya oleh lampu-lampu; Eropa kotor dan jorok, di Kordoba terdapat ribuan tempat mandi umum dan orang-orang Kordoba mengganti pakaian dalamnya setiap hari; jalanan Eropa penuh dengan lumpur, jalanan di Kordoba di-paving-block; orang-orang terpandang Eropa tidak bisa menulis namanya sendiri, anak-anak kecil Kordoba pergi ke sekolah.”

Transfer Pengetahuan Ke Eropa

Muslim percaya bahwa pengetahuan itu untuk semua manusia di bumi tanpa memandang ras, suku, agama, oleh karena itu mereka menerima dengan baik orang Eropa yang ingin belajar di dunia Islam. Pada abad ke-11 M di Kordoba siswa-siswa dari dunia Islam dan Eropa belajar bersama, gratis. Dari sini Eropa mulai membaca dan menulis kembali, mereka terkagum-kagum dengan pengetahuan dunia Islam dan kemajuan peradabannya. Mereka mulai menerjemahkan karya-karya ilmuwan Islam dari bahasa Arab ke Latin. Dari sini lah transfer pengetahuan terjadi. Ini lah embrio Renaisans.

Sejarawan Francis dan Joseph Gies menulis ketika pada abad ke-11 M Eropa mulai menerjemahkan karya-karya ilmuwan Muslim:

“Karya-karya Aristoteles, Galen, Euclid, Ptolemy dan lain-lain ditemukan di dunia Islam dalam bentuk terjemahan bahasa Arab. Dua sumber utama pengetahuan Yunani di Eropa adalah di Muslim Spanyol dan Muslim Sisilia, dua daerah dimana Muslim, Kristen dan Yahudi bekerja bersama dalam harmoni. Di Spanyol pusat pembelajaran utamanya adalah Toledo dimana uskup agung Raymond mendirikan tempat belajar dengan tujuan membuat pengetahuan dunia Islam bisa masuk ke Eropa. Pada tahun 1200an M semua karya-karya Yunani kuno telah berhasil diterjemahkan ke dalam bahasa latin bersama dengan karya-karya ilmuwan Muslim seperti dalam bidang pengobatan, optik, geometri, astronomi, astrologi, zoologi, psikologi dan mekanik.”

Sejarawan Eropa, Sideo menulis:

“Muslim ahli di bidang astronomi, mereka memberikan perhatian khusus kepada ilmu matematika dan mereka merupakan guru kita di bidang ini. Ketika kita melihat semua hasil terjemahan dari Arab ke Latin, kita menemukan bahwa orang yang pertama kali menerjemahkannya adalah Gerbert Sylvester II pada tahun 970-980 M, melaluinya lah semua ilmu pengetahuan dari Muslim Spanyol bisa sampai ke Eropa.”

Berikut adalah beberapa orang Eropa yang menerjemahkan karya-karya dunia Islam dari bahasa Arab ke bahasa Latin:
1. Stephen, ia belajar di Antiokia, Suriah pada tahun 1127 M dan menerjemahkan buku kedokteran dan pengobatan karya Ali Ibn Abbas, “Liber Regalis”.
2. Adelard of Bath, ia mengatakan,
“Dari tuan-tuan Muslimku, aku mempelajari satu hal, logika/kebebasan berpikir, sementara kamu (Eropa), terkekang oleh tuan-tuanmu.”

3. Hermann of Carintha dan Robert of Ketton, mereka berkata,
“ Kami bekerja untuk mendapatkan harta karun paling berharga orang Arab (ilmu pengetahuan).”

4. Gerard of Cremona, ia menerjemahkan 80 buku diantaranya tentang kedokteran, geografi dan astronomi.
5. Daniel of Morley, ia mengatakan,
“Ketertarikan saya terhadap ilmu pengetahuan membawa saya ke Paris. Tetapi yang saya lihat disana hanyalah orang-orang biadab dan dungu. Kebodohan dan ketidakmauan mereka untuk belajar membuat saya pergi ke Toledo dimana saya mendengar banyak buku dan guru yang bisa diakses gratis. Dan ketika saya pulang ke Inggris, saya membawa banyak koleksi buku.”

6. Peter the Venerable, ia menerjemahkan Al Quran.

Kesimpulan

Kontribusi Muslim yang paling signifikan dalam ilmu pengetahuan adalah pelestarian pengetahuan peradaban sebelumnya seperti Yunani, Persia dan India yang di mulai di abad ke-8 M. Ini menjadi sangat signifikan karena:
1. Tanpa pelestarian yang dilakukan oleh Muslim, tidak mungkin dunia saat ini bisa memiliki akses ke karya-karya Aristoteles, Plato, Hipocrates dan lain-lain.
2. Penemuan-penemuan hebat oleh Muslim di abad-abad berikutnya secara tidak langsung dipengaruhi oleh pengetahuan-pengetahuan peradaban sebelumnya. Muslim melanjutkan pekerjaan yang belum selesai oleh peradaban sebelumnya sekaligus menyempurnakan dan menemukan hal baru.

Sejarah Ilmu Pengetahuan Dan Peradaban
Sejarah Ilmu Pengetahuan Dan Peradaban

Ilmuwan Muslim sangat berintegritas dalam mempelajari pengetahuan Yunani tersebut, mereka tidak mengklaim hasil karya peradaban sebelumnya sebagai hasil karya mereka walaupun kondisinya saat itu sangat memungkinkan mengingat Eropa saat itu tidak bisa membaca dan menulis.

Ilmu pengetahuan dan peradaban manusia seperti rangkaian rantai; mereka saling bersambung, saling menguatkan. Ilmu pengetahuan yang belum sempurna di suatu peradaban disempurnakan oleh peradaban berikutnya. Semua kontribusi peradaban harus diakui tanpa harus ada yang disembunyikan.
PhotoGrid_1368347351032-1

Sumber

David Levering Lewis, “God’s Crucible: Islam and the Making of Europe”.
Tamim Ansary, “Destiny Disrupted: A History Of The World Through Islamic Eyes”.
Sardar & Davies, “The Legacy Of Islam: A Glimpse From A Glorious Past”.
S. P. Scott, “The History of Moorish Empire In Europe”.
Thomson, “The Muslims In Andalusia”.

Kairo: Sejarah Berdiri

Mesir memiliki sejarah yang sangat panjang dalam peradaban dunia. Mesir selalu menjadi rebutan penguasa dunia karena kekayaan alamnya, terima kasih kepada sungai Nil yang legendaris. Kerajaan-kerajaan yang pernah menguasai Mesir diantaranya Mesir kuno dengan Firaunnya, kerajaan Yunani dengan Alexander, Romawi, Khulafaur Rasyidin, Abbasiyah, Fathimiyah, Utsmani dan lain-lain.

Islam masuk ke Mesir pada tahun 640 M. Pada awal-awal peradaban Islam di Mesir, ibu kotanya bukanlah Kairo akan tetapi Fustat.

Fustat

Pasukan Muslim dibawah pimpinan salah satu jenderal terbaik dalam sejarah Islam, Amr ibn Ash RA memasuki wilayah Mesir pada tahun 640 M, kota pertama yang jatuh adalah Babilon pada bulan April 641 M. Amr menargetkan kota selanjutnya adalah Alexandria, ia dan pasukannya mendirikan kamp di utara Babilon. Suatu hari ketika Amr hendak berangkat ke Alexandria, ia mendapati seekor burung merpati bertelur di atas tendanya. Amr melihat ini sebagai pertanda dari Allah SWT dan langsung memperingatkan pasukannya untuk tidak mengganggu burung tersebut. Begitu kembali dari Alexandria dengan membawa kemenangan (November 641 M) Amr memerintahkan pasukannya untuk menyusun tenda-tenda mereka mengelilingi tenda miliknya sebagai pusatnya.

Amr ibn Ash pada awalnya ingin menjadikan Alexandria menjadi ibu kota provinsi Mesir tetapi ditolak kalifah Umar ibn Khattab RA. Umar tidak ingin antara ibu kota kekhalifahan di Madinah dengan ibu kota provinsi Mesir terhalangi oleh sungai Nil (Alexandria terletak di sebelah barat sungai Nil), oleh karena itu Umar memerintahkan Amr untuk membangun ibu kota di sisi timur sungai Nil. Amr memilih kamp pasukannya sebagai tempat bagi ibu kota Mesir, kota ini selanjutnya dinamai Fustat (yang berarti “Tenda”). Pada tahun 642 M, di tempat yang menjadi tenda Amr ibn Ash dibangun masjid yang dinamakan masjid Amr ibn Ash, yang menjadi masjid tertua di benua Afrika.

Gerbang masjid Amr ibn Ash
Gerbang masjid Amr ibn Ash

Fustat menjadi ibu kota Mesir selama 109 tahun sampai 750 M ketika “kekhalifahan” Umayyah diganti “kekhalifahan” Abbasiyah. Abbasiyah mengganti ibu kota semua provinsi penting di masa Umayyah untuk menghindari pemberontakan. Pada tahun 750 M ibukota Mesir dipindahkan ke Al Asqar, sebelah utara Fustat. Pada tahun 868 M gubernur Mesir untuk Abbasiyah, ibn Tulun memberontak, memisahkan diri dan mendirikan dinasti Tulunid. Ibu kota dipindahkan ke Al Qatai, tidak jauh dari Fustat dan Al Asqar. Dinasti Tulunid hanya bertahan selama 37 tahun dan untuk menghukum pemberontak ini, Abbasiyah menghancurkan Al Qatai. Ibu kota selanjutnya dikembalikan ke Fustat pada tahun 905 M sampai tahun 1168 M. Secara total Fustat menjadi ibu kota Mesir selama 372 tahun.

Kairo

Pada bulan Agustus 969 M, jenderal Jawhar dari “kekhalifahan” Fathimiyah yang beraliran Syiah menaklukkan Fustat. Ia memerintahkan pasukannya untuk membangun istana bagi “khalifah” Fatimiyah di sebelah timur laut Fustat. Tempat dibangunnya istana ini selanjutnya dinamai Al Qahirah (yang berarti “Kemenangan”).

"Kekhalifahan" Fathimiyah
“Kekhalifahan” Fathimiyah 969-1171 M

Jenderal Jawhar juga lah yang memerintahkan dibangunnya masjid Al Azhar dengan universitasnya yang membuat universitas Al Azhar menjadi universitas tertua kedua di dunia.

Di mayoritas masa pemerintahan “kekhalifahan” Fathimiyah, ibu kota Mesir tetap di Fustat sampai tahun 1168 M (Tiga tahun sebelum Fathimiyah ditaklukkan Salahuddin). Pada tahun itu menteri Fathimiyah yang bernama Shawar membumihanguskan Fustat untuk mencegah pasukan salib mengambilnya dan juga menghambat akses ke Kairo. Dengan hangusnya Fustat, ibu kota Mesir resmi berpindah ke Kairo sampai sekarang.

Kairo sempat dipimpin oleh berbagai dinasti, yang pertama Fathimiyah. Selama 202 tahun di bawah kepemimpinan Fathimiyah, Kairo berkembang pesat menjadi salah satu pusat peradaban di dunia menyaingi Baghdad milik “kekhalifahan” Abbasiyah dan Kordoba milik “kekhalifahan” Kordoba. Ilmu pengetahuan, seni dan budaya berkembang pesat.

Pada tahun 1171 M, dinasti Ayyubid dibawah Salahuddin Al Ayyubi memimpin Kairo, di bawah pemerintahannya Kairo semakin berkembang dan menyumbang banyak jasa terhadap ilmu pengetahuan, seni dan budaya.

Dinasti Ayyubid 1171-1341 M
Dinasti Ayyubid 1171-1341 M

Satu prestasi Salahuddin terhadap Kairo adalah ia menyatukan Fustat, Al Qatai dan Al Asqar ke dalam kota Kairo. Ia membangun dinding tebal mengelilingi keempat kota tersebut. Dengan penyatuan ketiga kota ini ke Kairo menjadikan Kairo yang baru ini luasnya sepuluh kali lipat dari Kairo semasa pemerintahan dinasti Fathimiyah.

Pada tahun 1250, dinasti Mamluk berkuasa di Mesir. Di bawah pemerintahannya Kairo terus berkembang menjadi pusat peradaban Islam dengan dihancurkannya Baghdad oleh Mongol. Dengan kesejahteraan ekonomi, rumah-rumah harus dibangun diluar dinding kota yang dibangun Salahuddin. Pada masa ini pula lah Kairo terkena wabah penyakit Black Death, penyakit yang menyebar di Asia, Afrika dan Eropa, mengurangi populasi dunia abad ke-14 dan 15 M dari 450 juta menjadi 350 juta. Di Kairo sendiri penyakit ini membunuh 200.000 orang, mengurangi populasi Kairo dari 500.000 ke 300.000 pada abad ke-15.

Pada tahun 1517, “kekhalifahan” Turki Utsmani berkuasa di Mesir. Di bawah pemerintahannya Kairo terus berkembang terutama dari sisi tata kota dimana banyak dibangun taman-taman luas dan indah, gedung-gedung tinggi. Kairo menjadi kota kedua terbesar di dalam “kekhalifahan” Utsmani setelah Istanbul.

Saat ini di masa modern, walaupun dipengaruhi kondisi politik Mesir yang selalu bergejolak dalam 100 tahun terakhir, Kairo tidak kehilangan pamornya. Kairo terus menjadi pusat ekonomi dan pendidikan setidaknya di dunia Arab dan benua Afrika. Kairo adalah kota terbesar di dunia Arab dan benua Afrika dari sisi populasi dengan penduduk 7 juta orang.

Sumber

Tamim Ansary, “Destiny Disrupted: A History Of The World Through Islamic Eyes”
Mustafa Murad, “Omar”

Masjid Biru

Masjid Biru
Masjid Biru

Nama asli masjid biru ini sebenarnya adalah masjid Sultanahmet karena masjid ini dibangun atas perintah sultan Ahmad I. Sang sultan bercita-cita ingin membangun masjid yang menandingi kebesaran Hagia Sophia. Sultan Ahmad I dilahirkan di Istanbul pada 18-April-1590 dan wafat 22-November-1617. Beliau berkuasa dari 21-Desember-1603 sampai wafatnya. Selanjutnya masjid ini disebut masjid biru karena keramik-keramik indah yang berwarna biru pada interiornya.

Interior kubah masjid biru
Interior kubah masjid biru

Pembangunan masjid biru dimulai di tahun 1609 dan diketuai oleh kepala arsitek kesultanan Utsmani, Sedefkar Mehmet Aga. Beliau menjabat kepala arsitek kesultanan menggantikan arsitek legendaris dunia Islam, Mimar Sinan. Pembangunannya memakan waktu tujuh tahun. Di dalam komplek masjid biru terdapat madrasah, sekolah Quran, pasar, pemandian umum, makam sultan Ahmad I dan rumah sakit.

Masjid biru adalah masjid kesultanan yang paling luas dan paling artistik setelah masjid Suleymaniye. Di sebelah luar masjid biru terdapat bekas lintasan balap kuda peninggalan Romawi (Hippodrome) yang sekarang difungsikan sebagai alun-alun. Orang Turki menyebut alun-alun ini alun-alun Sultanahmet.

Bekas Hippodrome Romawi dengan obelisk-nya
Bekas Hippodrome Romawi dengan obelisk-nya

Bagaimana cara untuk menuju ke Masjid biru bisa dilihat disini. Masjid biru letaknya berhadap-hadapan dengan Hagia Sophia dan untuk memasukinya gratis. Masjid ini selain merupakan objek wisata juga masih berfungsi aktif sebagai masjid oleh karena itu suatu waktu anda akan mendengar adzan dilantunkan. Masjid ini akan ditutup selama satu jam di setiap awal-awal waktu sholat.

Masjid ditutup untuk sholat
Masjid ditutup untuk sholat

Pengunjung sehabis sholat di masjid biru
Pengunjung sehabis sholat di masjid biru

Sebagaimana halnya masjid, ada beberapa hal yang harus anda patuhi sebelum memasukinya, yaitu:
1. Lepas sepatu atau sandal.
2. Untuk laki-laki harus memakai celana panjang. Untuk wanita harus memakai celana/rok panjang dan menutupi rambutnya dengan kerudung.
3. Jangan berbicara kencang.
4. Jangan mengambil foto selama waktu sholat.
5. Jangan mengunjungi daerah yang tidak diperuntukkan untuk turis.

Setelah mengunjungi masjid biru jangan lupa untuk mampir ke toko-toko suvenir yang berada di dekatnya karena mereka menjual barang yang lebih beragam dengan harga yang lebih murah dibanding membeli di bandara.

Ali Imran, Romawi dan Persia

Di masa-masa awal lahir dan berkembangnya Islam di masa kenabian nabi Muhammad SAW antara tahun 610 – 632 M di jazirah Arab, daerah tersebut diapit oleh dua adikuasa dunia, kekaisaran Bizantium (Romawi) di sebelah barat dan kerajaan Sassanid (Persia) di sebelah timur, juga kerajaan Yaman di selatan.

Peta jazirah Arab di masa-masa awal kelahiran Islam
Peta jazirah Arab di masa-masa awal kelahiran Islam

Pada tahun 627 Masehi (5 Hijriah) kaum Muslim di Madinah sedang bersiap-siap menyambut serangan dari kaum kafir Mekkah. Sebelumnya kaum kafir Mekkah telah mengalami dua kali kekalahan dari kaum Muslim yaitu di pertempuran Badar dan Uhud. Kedua kekalahan ini membuat mereka gelisah, kalap lalu mereka memutuskan untuk menyerang kaum Muslim sekali lagi dengan serangan besar-besaran. Pertempuran ini selanjutnya akan dikenal dengan pertempuran parit (Khandaq). Disebut pertempuran parit karena setelah berdiskusi dengan para sahabat, nabi Muhammad SAW menyetujui saran seorang sahabat, Salman Al Farisi RA untuk menggali parit mengelilingi Madinah sebagai mekanisme pertahanan.

Suatu hari ketika sedang menggali seorang sahabat terhalangi oleh sebuah batu yang sangat besar, ia dan para sahabat yang lain mencoba menghancurkannya tetapi tidak berhasil, setelah berusaha sekuat mungkin mereka menyerah dan meminta tolong Salman Al Farisi RA untuk memberitahukan masalah ini kepada nabi Muhammad SAW sekaligus meminta sarannya. Sang nabi SAW segera datang ke tempat kejadian, beliau mengambil kapak dan memukulkannya ke batu tersebut. Batu tersebut mulai hancur berkeping-keping dan darinya keluar kilatan cahaya yang menerangi daerah sekitar penggalian. Nabi Muhammad SAW berkata, “Di dalam cahaya ini aku melihat istana dan bangunan-bangunan kerajaan Persia”. Beliau memukulkan kembali kapaknya, cahaya kedua muncul, beliau berkata, “Di dalam cahaya ini aku melihat istana berwarna merah dan bangunan-bangunan kekaisaran Romawi”. Beliau memukulkan kembali kapaknya, cahaya ketiga muncul, beliau berkata, “Pada cahaya ini aku melihat istana yang besar di Sanaa, Yaman”. Lalu beliau berkata, “Aku menyampaikan kepadamu berita gembira yang dibawa oleh malaikat Jibril bahwa kaum Muslim akan menaklukkan ketiga kerajaan tersebut”.

Ketika kaum munafik dan Yahudi Madinah mendengar berita ini, mereka tertawa dan mengejek kaum Muslim, “Lihatlah mereka, sekarang saja mereka ketakutan oleh musuh dari Mekkah sampai-sampai mereka menggali parit tanpa makan dan istirahat, tanpa mengetahui nantinya nyawa mereka sendiri akan selamat atau tidak, sekarang mereka malah bermimpi menaklukkan Persia, Romawi dan Yaman!”

Menjawab ejekan kaum munafik dan Yahudi tersebut Allah SWT menurunkan surat Ali Imran: 26.

“Katakanlah: “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Pada tahun 711 M, 84 tahun setelah kaum munafik dan Yahudi mengejek, kaum Muslim menguasai seluruh jazirah Arab, seluruh wilayah Persia dan sebagian besar wilayah Romawi. Kekuasaan yang terbentang dari India sampai Spanyol.

Wilayah kaum Muslim di bawah dinasti Umayyah pada tahun 750 M
Wilayah kaum Muslim di bawah dinasti Umayyah

Madrid: Kota Yang Didirikan Muslim Spanyol

Madrid adalah ibu kota Negara Spanyol dan juga merupakan kota terbesarnya. Berdasarkan badan pusat statistik Spanyol (Instituto Nacional de Estadistica), populasi kota Madrid pada tahun 2012 adalah sebanyak 3,3 juta jiwa. Berdasarkan populasi, Madrid adalah kota ketiga terbesar di antara negara-negara yang tergabung dalam Persatuan Eropa (European Union) setelah London dan Berlin.

Tahukah anda asal usul kota Madrid? Ternyata Madrid sebagai tempat tinggal didirikan pertama kali oleh kaum Muslim. Pada tahun 711 M, pasukan kekhilafahan Umayyah dibawah pimpinan Tariq ibn Ziyad menyeberang dari Maroko ke Spanyol dan menaklukkan seluruh wilayah Spanyol dan Portugal modern dari kerajaan Visigoth kecuali sedikit di utara. Tahun tersebut adalah tahun yang menandakan lahirnya peradaban Islam di Spanyol sampai kira-kira 800 tahun kedepan.

Menurut sejarawan Spanyol yang bernama Oliver Asin, Madrid awalnya adalah benteng di dekat perbatasan dengan kerajaan Leon dan Castile di utara, fungsinya mengawasi kemungkinan serangan dari kedua kerajaan tersebut terhadap kaum Muslim di selatan. Benteng tersebut dibangun atas perintah penguasa Kordoba, Muhammad I pada paruh kedua abad kesembilan masehi (kira-kira 852-866 M). Selain benteng, di daerah tersebut juga dibangun rumah-rumah dan masjid. Muslim Spanyol menyebut daerah berdirinya benteng tersebut “Al Madjrit” yang berarti saluran air.

Posisi Madrid di abad kesepuluh Masehi
Posisi Madrid di abad kesepuluh Masehi

Selama 800 tahun kepemimpinan Muslim di Spanyol sampai tahun 1492 M, Madrid bukanlah ibu kota Muslim Spanyol bahkan bukan termasuk kota utama, saat itu kota-kota utama di Spanyol adalah Kordoba, Toledo, Sevilla, Valencia dan Granada. Madrid baru menjadi ibu kota Spanyol setelah Muslim tidak lagi memerintah yaitu di tahun 1561 M atas perintah raja Spanyol Philip II.

Hagia Sophia

Istanbul, Turki (dulu Konstantinopel) selalu menjadi kota yang penting, bahkan hingga saat ini dalam peradaban dunia. Daerah Istanbul berkali-kali berganti penguasa, mulai dari kerajaan Persia, Yunani, Romawi, Utsmani dan sekarang Republik Turki. Sejarah panjang ini membuat Istanbul kaya akan peninggalan-peninggalan besar arsitektural, salah satunya adalah Hagia Sophia atau Ayasofya dalam bahasa Turki.

Sejarah singkat Hagia Sophia

Hagia Sophia
Hagia Sophia

Hagia Sophia dibangun oleh kaisar Konstantin II dari kekaisaran Bizantium (Romawi Timur) pada tahun 360 M. Kaisar Konstantin adalah anak dari Konstantin I, kaisar yang membangun Konstantinopel (nama tua Istanbul). Hagia Sophia yang merupakan gereja Kristen Ortodoks dibangun diatas lokasi yang dulunya adalah kuil penyembahan pagan.

Nama Hagia Sophia berasal dari bahasa Yunani yang kalau diterjemahkan ke bahasa Indonesia menjadi “Kesucian dan kebijaksanaan”. Hagia Sophia mempunyai julukan Magna Ecclesia (bahasa latin dari Gereja Besar/Grand Church). Selama 900 tahun Hagia Sophia menjadi gereja terbesar kekristenan.

Hagia Sophia sempat beberapa kali mengalami kerusakan karena kerusuhan, kebakaran dan gempa bumi. Pada tahun 404 M sempat terbakar karena kerusuhan dan pada tahun 405 M kaisar Theodosius II memerintahkan untuk memperbaikinya kembali. Pada tahun 532 M,mengalami kerusakan hebat karena revolusi Nika. Kaisar Justinian II memerintahkan untuk memperbaiki dan selesai pada tahun 537 M. Perbaikan arsitektural di masa Justinian II inilah yang mayoritas warisannya masih dapat kita lihat di Hagia Sophia sekarang. Pada tahun 553, 557 dan 869 M Hagia Sophia sempat rusak karena gempa bumi yang membuat kubahnya jatuh. Pada tahun 1204 M, pada perang salib keempat, pasukan salib katolik Roma menduduki Konstantinopel dan Hagia Sophia diubah menjadi gereja katolik Roma. Pada tahun 1261 M, Bizantium merebut kembali Konstantinopel dan mengubah kembali Hagia Sophia menjadi gereja Kristen ortodoks. Pada tahun 1344 dan 1346 M Hagia Sophia kembali terkena gempa.

Pasukan Salib keempat menaklukkan Konstantinopel pada tahun 1204 M
Pasukan Salib keempat menaklukkan Konstantinopel pada tahun 1204 M

Pada 29-Mei-1453 M, setelah 54 hari pengepungan, kesultanan Turki Utsmani melalui sultan Muhammad Al Fatih menaklukkan Konstantinopel dan Hagia Sophia diubah menjadi Masjid Agung Kesultanan Utsmani.

Ilustrasi Sultan Muhammad Al Fatih memasuki Konstantinopel oleh Fausto Zonaro
Ilustrasi Sultan Muhammad Al Fatih memasuki Konstantinopel oleh Fausto Zonaro

Pada masa kesultanan Utsmani, untuk mendukung fungsinya sebagai masjid, menara-menara dibangun di sekitar Hagia Sophia, totalnya adalah empat menara. Diakhir abad ke-16 M, arsitek terkenal Utsmani, Mimar Sinan, atas perintah sultan Selim II, memperkuat struktur Hagia Sophia agar lebih tahan gempa. Pada tahun 1739 M, atas perintah sultan Mahmud I, di komplek Hagia Sophia dibangun madrasah (sekolah), dapur untuk memberi makan orang miskin dan perpustakaan umum. Perbaikan selanjutnya adalah di tahun 1847 M di masa sultan Abdul Majid, ia memerintahkan arsitek Swiss-Italia Gaspere dan Fossati. Mereka memperbaiki retakan-retakan dan memperkuat struktur kubah, mencabut plester-plester yang menutupi mosaik dan gambar di dinding, dengan bantuan Mustafa Izzet Effendi, ahli kaligrafi terkenal saat itu, menambahkan delapan kaligrafi raksasa yang dibuat diatas panel kayu bulat, masing-masing bertuliskan; Allah, nabi Muhammad SAW, Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Hasan dan Husein.

Kaligrafi Allah dan nabi Muhammad SAW
Kaligrafi Allah dan nabi Muhammad SAW

Di kompleknya juga terdapat makam empat sultan Utsmani yaitu Selim II, Mustafa I, Murad III dan Mehmed III. Karena kebesaran arsitekturnya, Hagia Sophia bisa dilihat dari jarak berkilometer-kilometer jauhnya bahkan dari selat Bosphorus yang membelah Istanbul menjadi Istanbul Eropa dan Asia.

Hagia Sophia (sebelah kanan) dilihat dari selat Bosphorus
Hagia Sophia (sebelah kanan) dilihat dari selat Bosphorus

Pada tahun 1935, dengan lahirnya Republik Turki, presiden pertama Turki, Mustafa Kemal Ataturk memerintahkan untuk mengubah Hagia Sophia menjadi museum. Dengan usia kurang lebih 1.500 tahun dan berganti-ganti penguasa, Hagia Sophia memiliki kekayaan sejarah dan arsitektural yang besar. Hal ini membuat UNESCO menetapkan Hagia Sophia sebagai salah satu warisan budaya dunia pada tahun 1985.

Informasi Kunjungan

Hagia Sophia berlokasi di komplek Sultanahmet (kota tua), letaknya berhadap-hadapan dengan Masjid Biru (Masjid Sultanahmet) dan berbelakang-belakangan dengan istana Topkapi, istana pemerintahan kesultanan Utsmani.

Tiket masuk ke Hagia Sophia adalah sebesar TL 25 dan hanya berlaku sekali masuk. Untuk mengunjungi makam sultan-sultan yang berada di kompleks yang telah disebutkan diatas gratis. Hagia Sophia buka setiap hari kecuali hari Senin, hari pertama bulan Ramadhan dan Idul Adha. Antara tanggal 15-April dan 1-Oktober (musim panas) buka dari jam 9 pagi sampai jam 7 malam, pengunjung terakhir masuk jam 6 sore. Antara tanggal 2-Oktober dan 14-April (musim dingin) buka dari jam 9 pagi sampai jam 5 sore, pengunjung terakhir masuk jam 4 sore.

Pengalaman pribadi

Gue pernah mengunjungi Hagia Sophia pada musim panas dan dingin dan secara pribadi gue lebih suka mengunjunginya di musim panas karena matahari bersinar cerah membuat Hagia Sophia dan kompleknya terlihat lebih indah bercahaya, taman-taman hijau, bunga-bunga bermekaran bahkan diawal-awal musim panas (Awal April) kita bisa lihat bunga Tulip yang merupakan bunga asli Turki bermekaran indah.

Hagia Sophia dan tulip
Hagia Sophia dan tulip

Cara untuk ke Hagia Sophia juga sangat gampang karena tentu saja ini adalah tujuan utama turis, pemerintah berkepentingan membuat akses ke Hagia Sophia gampang dan juga nyaman bagi turis. Jika anda tinggal di hotel daerah Sultanahmet (kota tua) anda tinggal jalan kaki. Waktu itu gue tinggal di hotel di daerah Taksim, Beyoglu, daerah Istanbul modern, daerah muda. Dari sana, dengan menggunakan Istanbulkart gue menggunakan metro dan sampai dalam waktu kurang lebih 45 menit. Saran gue, sebagai turis, untuk memudahkan transportasi, anda lebih baik membeli Istanbulkart, caranya bisa dilihat disini.

Dari Taksim anda pertama ke stasiun funicular (subway) Taksim dan naik sampai stasiun tram Kabatas. Dari Kabatas anda naik lalu turun di Sultanahmet. Di tram anda bisa melihat stasiun-stasiun mana saja yang akan dilewati dan mereka menandai setiap stasiun yang telah dilewati/sedang dilewati. Setelah turun di Sultanahmet anda tinggal jalan kaki selama 5 menit mengikuti petunjuk jalan, sangat gampang. Untuk pulang kembali ke Taksim, menggunakan cara yang sama dengan rute sebaliknya.

Gue juga pernah tinggal di Istanbul Asia, di daerah Kadikoy. Jika anda tinggal di Istanbul Asia, cara paling gampang dan cepat ke daerah Sultanahmet adalah dengan memakai feri. Ada banyak stasiun feri, waktu itu gue ke stasiun Bostanci, dari sana gue menuju ke stasiun feri Eminonu di Istanbul Eropa, waktu perjalanan 1 jam 30 menit karena gue memilih rute feri yang muter-muter ke Prince’s Island dulu, sekalian jalan-jalan. Dari Eminonu, sudah dekat dengan Sultanahmet, anda bisa berjalan 20 menitan atau menunggu tram lewat. Untuk pulang ke Istanbul Asia, menggunakan cara yang sama dengan rute sebaliknya tetapi anda perlu memperhatikan jadwal ferinya karena kalau tidak salah mereka hanya melayani penyeberangan sampai jam 6 sore. Untuk melihat rute-rute menuju Hagia Sophia bisa dilihat disini.

O ya, jangan lupa berfoto dengan sultan.

Sultan siap berfoto
Sultan siap berfoto