Muslim Dan Pelestarian Ilmu Pengetahuan

Menurut Eropa (barat), ilmu pengetahuan zaman sekarang ini secara langsung semuanya berdasarkan warisan pengetahuan Yunani kuno. Perkembangan pengetahuan Yunani terjadi di abad ke-6 sebelum Masehi (SM) sampai abad ke-2 Masehi (M). Pengetahuan ini hilang antara tahun ke-5 M sampai tahun ke-15 M dan ditemukan kembali oleh barat pada abad ke-16 M. Ada kekosongan pengetahuan selama 1.000 tahun.

Sejarah Ilmu Pengetahuan Menurut Barat
Sejarah Ilmu Pengetahuan Menurut Barat

Kondisi Umum Eropa Abad ke-5 M

Pada tahun 476 M, kekaisaran Romawi di Eropa Barat runtuh oleh peperangan internal dan invasi orang-orang barbar Eropa. Tahun runtuhnya kekaisaran Romawi ini oleh sejarawan dijadikan awal sebagai suatu masa yang dikenal dengan nama Zaman Kegelapan (The Dark Ages), yaitu zaman kemunduran ekonomi, ilmu pengetahuan, seni, budaya dan kehidupan sosial masyarakat. Selama 1.000 tahun kedepan Eropa berhenti membaca dan menulis dan hanya disibukkan dengan berperang satu sama lain.

Eropa di abad ke-8 M terpecah-pecah dan saling berperang
Eropa di abad ke-8 M terpecah-pecah dan saling berperang

Berdasarkan kondisi umum Eropa ini, muncul pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:
1. Bagaimana mungkin Eropa yang selama 1.000 tahun tidak belajar dan selalu berperang lalu tiba-tiba dalam satu detik menjadi pintar?
2. Bagaimana mungkin catatan-catatan pengetahuan Yunani dapat tetap utuh dalam waktu 1.000 tahun ketika tuannya sendiri tidak menyenangi pengetahuan dan lebih menyenangi perang? Siapa yang menjaganya?
3. Bagaimana mungkin pengetahuan Yunani bisa selamat selama 1.000 tahun ketika setiap ksatria Eropa dalam menaklukkan kota selalu membakar buku-buku dan menghancurkan bangunan-bangunan?
4. Bagaimana mungkin pengetahuan Yunani yang ibaratnya baru sampai pada bab 1 pada abad ke-5 M lalu saat ditemukan kembali pada abad ke-16 M sudah sampai bab 5? Siapa yang melanjutkannya?

Kondisi Umum Dunia Islam Abad ke-8 M

Zaman Kegelapan hanya terjadi di Eropa, di saat yang sama, di belahan bumi lainnya, di daerah bergurun tandus ada suatu peradaban yang sedang mengalami Zaman Keemasan (Golden Age), peradaban Islam. Zaman Keemasan adalah zaman kemajuan ekonomi, ilmu pengetahuan, seni, budaya dan kehidupan sosial masyarakat. Zaman keemasan peradaban Islam berlangsung kira-kira 600 tahun dari abad ke-8 M sampai abad ke-14 M di seluruh wilayah dunia Islam dari perbatasan Cina sampai Spanyol.

Dunia Islam Pada Pertengahan Abad Ke-8 M
Dunia Islam Pada Pertengahan Abad Ke-8 M

Dengan semakin meluasnya wilayah Islam pada abad ke-8 M, dunia Islam bersinggungan dengan peradaban-peradaban lain yang lebih tua seperti India, Persia dan Yunani. Persinggungan ini tidak hanya berefek kepada masuknya budaya mereka dalam kehidupan sehari-hari Muslim tetapi juga masuknya pengetahuan-pengetahuan yang mereka miliki. Muslim terkesima ketika tiba-tiba akses mereka terhadap ilmu pengetahuan terbuka lebar. Mereka sangat bersemangat karena Al Quran dan nabi Muhammad SAW mengajarkan pentingnya mencari ilmu pengetahuan, mempelajari dan mengajarkannya. Allah SWT bahkan menjanjikan siapa yang berilmu, derajatnya akan dinaikkan.

Berdasarkan insentif dari Allah SWT ini, pemimpin-pemimpin Muslim mendorong rakyatnya untuk belajar. Oleh karena itu sepanjang sejarah dunia Islam pusat-pusat pembelajaran merata dari ujung timur kekhalifahan di Samarkand, Asia Tengah sampai ujung barat di Kordoba, Spanyol.

Salah satu contoh inisiatif yang melegenda adalah di zaman kekhalifahan Abbasiyah ketika pada tahun 830 M khalifah Al-Ma’mun membangun Rumah Kebijaksanaan (Bayt Al-Hikmah/House Of Wisdom) di Baghdad. Rumah ini didedikasikan sebagai tempat belajar, di dalamnya terdapat masjid, sekolah dan perpustakaan. Menariknya, tidak hanya Muslim yang berkarya disini, kepemimpinan Muslim yang toleran memungkinkan Kristen dan Yahudi juga belajar dan bersama-sama membangun peradaban. Rumah Kebijaksanaan ini pantas mendapatkan apresiasi yang tinggi karena selain sebagai rumah pembelajaran pertama yang akan ditiru kota-kota Islam lainnya juga memungkinkan berlanjutnya perkembangan ilmu pengetahuan yang sempat mandek setelah Romawi Barat runtuh dan sempat dirusak oleh kekaisaran Bizantium (Romawi Timur).

Bayt Al-Hikmah di Baghdad
Bayt Al-Hikmah di Baghdad

Pelestarian Pengetahuan

Salah satu pengetahuan peradaban tua yang dipelajari oleh Muslim adalah peradaban Yunani. Muslim menerjemahkan karya-karya Aristoteles, Plato, Hipocrates dan lain-lain ke dalam bahasa Arab. Tidak hanya menerjemahkan, Muslim juga memberi komentar, mengoreksi kesalahan-kesalahan, menyempurnakannya bahkan menemukan dan memperkenalkan ilmu-ilmu baru.

Penerjemah Muslim yang terkenal diantaranya adalah Hunayn Ibn Ishaq (808-873 M) yang menerjemahkan karya Hipocrates, “Corpus Hippocraticum, Prognostic”. Selain ia ada juga Al Kindi dan Yuhanna Ibn Bukhtishu.

Lembaran Hasil Terjemahan Hunayn Ibn Ishaq
Lembaran Hasil Terjemahan Hunayn Ibn Ishaq

Muslim Sedang Belajar Di Bayt Al-Hikmah
Muslim Sedang Belajar Di Bayt Al-Hikmah

Tidak mau kalah dengan Baghdad, pusat pembelajaran juga dibangun di Kairo dengan nama yang sama, Rumah Kebijaksanaan (Bayt Al-Hikmah/The House Of Wisdom). Sejarawan Al-Maqrizi pada tahun 1004 M menulis tentang Rumah Kebijaksanaan yang ada di Kairo sebagai berikut:

“Siapapun yang ingin mengkopi buku di perpustakaannya dia bebas melakukannya, siapa pun yang ingin membaca buku dia bebas melakukannya. Orang mempelajari Al Quran, astronomi, bahasa dan kedokteran. Interiornya dihiasi karpet tebal, semua pintu dan koridor ruangan memiliki tirai indah, di dalamnya terdapat manajer, pegawai administrasi, pelayan untuk mengelolanya dan memastikan kenyamanan orang yang sedang belajar. Rumah ini bebas dimasuki siapa saja yang ingin memasukinya.”

Di wilayah yang berbatasan langsung dengan Eropa, pusat pembelajaran terdapat di Andalusia, Spanyol dan Sisilia, Italia. Dari kedua daerah ini lah pengetahuan Muslim akan menyebar ke seantero Eropa.

Sejarawan Gustave Le Bon mengatakan,

“Di masa Eropa tenggelam ke dalam kegelapan dan barbarisme, Baghdad dan Kordoba, dua kota terbaik dunia Islam menjadi pusat peradaban yang menerangi seluruh dunia dengan kejeniusannya.”

Jacques menulis,

“Selama 500 tahun dunia Islam memimpin dunia dengan kekuatannya, kejeniusannya dan kemajuan peradabannya. Mewarisi filosofi dan pengetahuan Yunani kuno dan setelah mengembangkannya Muslim menyebarkan pengetahuan ini ke Eropa. Hal ini merubah kehidupan Eropa selamanya.”

Hasil pembelajaran pengetahuan Yunani kuno ini disimpan oleh Muslim dengan baik di perpustakaan di seantero dunia Islam. Pada abad ke-10 M di Kordoba, Spanyol, “khalifah” Al Hakam memiliki perpustakaan dengan koleksi 600.000 buku dan kota Kordoba sendiri setiap tahun menghasilkan 60.000 judul buku sementara Eropa masih belajar membaca dan menulis. Di Baghdad, koleksinya tentu sama banyaknya mengingat ketika orang-orang Mongol membuang buku-buku ke sungai Eufrat pada tahun 1258 M, air sungai menjadi hitam karena tinta untuk beberapa hari.

Sardar & Davies dalam bukunya, “The Legacy Of Islam: A Glimpse From A Glorious Past” menggambarkan kondisi Baghdad dan kota-kota di Timur Tengah:

“Ada sangat banyak perpustakaan di dunia Islam. Di Baghdad tercatat sebanyak 36 perpustakaan pada pertengahan abad ke-13 dan itu belum termasuk perpustakaan di Rumah Kebijaksanaan.”

“Perpustakaan yang sama banyak ditemukan di Kairo, Aleppo dan kota-kota besar di Iran, Asia Tengah. Selain perpustakaan pusat milik kekhalifahan, terdapat jaringan perpustakaan yang besar di banyak kota-kota besar yang memiliki koleksi-koleki buku prestisius yang menarik banyak ilmuwan muslim untuk datang.”

Sejarawan S. P. Scott dalam bukunya, “The History of Moorish Empire In Europe” menggambarkan kondisi Kordoba di abad ke-10 M:

“Disaat raja-raja di Eropa tidak bisa membaca dan menulis, raja di Muslim Andalusia memiliki perpustakaan pribadi dengan 600.000 koleksi buku. Disaat 99% orang Eropa tidak bisa membaca dan menulis, kota Kordoba di Muslim Andalusia memiliki 800 sekolah, dan tidak ada satu pun desa di Muslim Andalusia yang tidak menikmati sekolah ini bahkan orang yang paling miskin sekalipun. Sangat sulit di saat itu untuk menemukan bahkan petani yang tidak bisa membaca dan menulis.”

Thomson dalam bukunya “The Muslims In Andalusia” menulis:

“Saat matahari terbenam, Eropa tenggelam dalam kegelapan, sementara Kordoba bercahaya oleh lampu-lampu; Eropa kotor dan jorok, di Kordoba terdapat ribuan tempat mandi umum dan orang-orang Kordoba mengganti pakaian dalamnya setiap hari; jalanan Eropa penuh dengan lumpur, jalanan di Kordoba di-paving-block; orang-orang terpandang Eropa tidak bisa menulis namanya sendiri, anak-anak kecil Kordoba pergi ke sekolah.”

Transfer Pengetahuan Ke Eropa

Muslim percaya bahwa pengetahuan itu untuk semua manusia di bumi tanpa memandang ras, suku, agama, oleh karena itu mereka menerima dengan baik orang Eropa yang ingin belajar di dunia Islam. Pada abad ke-11 M di Kordoba siswa-siswa dari dunia Islam dan Eropa belajar bersama, gratis. Dari sini Eropa mulai membaca dan menulis kembali, mereka terkagum-kagum dengan pengetahuan dunia Islam dan kemajuan peradabannya. Mereka mulai menerjemahkan karya-karya ilmuwan Islam dari bahasa Arab ke Latin. Dari sini lah transfer pengetahuan terjadi. Ini lah embrio Renaisans.

Sejarawan Francis dan Joseph Gies menulis ketika pada abad ke-11 M Eropa mulai menerjemahkan karya-karya ilmuwan Muslim:

“Karya-karya Aristoteles, Galen, Euclid, Ptolemy dan lain-lain ditemukan di dunia Islam dalam bentuk terjemahan bahasa Arab. Dua sumber utama pengetahuan Yunani di Eropa adalah di Muslim Spanyol dan Muslim Sisilia, dua daerah dimana Muslim, Kristen dan Yahudi bekerja bersama dalam harmoni. Di Spanyol pusat pembelajaran utamanya adalah Toledo dimana uskup agung Raymond mendirikan tempat belajar dengan tujuan membuat pengetahuan dunia Islam bisa masuk ke Eropa. Pada tahun 1200an M semua karya-karya Yunani kuno telah berhasil diterjemahkan ke dalam bahasa latin bersama dengan karya-karya ilmuwan Muslim seperti dalam bidang pengobatan, optik, geometri, astronomi, astrologi, zoologi, psikologi dan mekanik.”

Sejarawan Eropa, Sideo menulis:

“Muslim ahli di bidang astronomi, mereka memberikan perhatian khusus kepada ilmu matematika dan mereka merupakan guru kita di bidang ini. Ketika kita melihat semua hasil terjemahan dari Arab ke Latin, kita menemukan bahwa orang yang pertama kali menerjemahkannya adalah Gerbert Sylvester II pada tahun 970-980 M, melaluinya lah semua ilmu pengetahuan dari Muslim Spanyol bisa sampai ke Eropa.”

Berikut adalah beberapa orang Eropa yang menerjemahkan karya-karya dunia Islam dari bahasa Arab ke bahasa Latin:
1. Stephen, ia belajar di Antiokia, Suriah pada tahun 1127 M dan menerjemahkan buku kedokteran dan pengobatan karya Ali Ibn Abbas, “Liber Regalis”.
2. Adelard of Bath, ia mengatakan,
“Dari tuan-tuan Muslimku, aku mempelajari satu hal, logika/kebebasan berpikir, sementara kamu (Eropa), terkekang oleh tuan-tuanmu.”

3. Hermann of Carintha dan Robert of Ketton, mereka berkata,
“ Kami bekerja untuk mendapatkan harta karun paling berharga orang Arab (ilmu pengetahuan).”

4. Gerard of Cremona, ia menerjemahkan 80 buku diantaranya tentang kedokteran, geografi dan astronomi.
5. Daniel of Morley, ia mengatakan,
“Ketertarikan saya terhadap ilmu pengetahuan membawa saya ke Paris. Tetapi yang saya lihat disana hanyalah orang-orang biadab dan dungu. Kebodohan dan ketidakmauan mereka untuk belajar membuat saya pergi ke Toledo dimana saya mendengar banyak buku dan guru yang bisa diakses gratis. Dan ketika saya pulang ke Inggris, saya membawa banyak koleksi buku.”

6. Peter the Venerable, ia menerjemahkan Al Quran.

Kesimpulan

Kontribusi Muslim yang paling signifikan dalam ilmu pengetahuan adalah pelestarian pengetahuan peradaban sebelumnya seperti Yunani, Persia dan India yang di mulai di abad ke-8 M. Ini menjadi sangat signifikan karena:
1. Tanpa pelestarian yang dilakukan oleh Muslim, tidak mungkin dunia saat ini bisa memiliki akses ke karya-karya Aristoteles, Plato, Hipocrates dan lain-lain.
2. Penemuan-penemuan hebat oleh Muslim di abad-abad berikutnya secara tidak langsung dipengaruhi oleh pengetahuan-pengetahuan peradaban sebelumnya. Muslim melanjutkan pekerjaan yang belum selesai oleh peradaban sebelumnya sekaligus menyempurnakan dan menemukan hal baru.

Sejarah Ilmu Pengetahuan Dan Peradaban
Sejarah Ilmu Pengetahuan Dan Peradaban

Ilmuwan Muslim sangat berintegritas dalam mempelajari pengetahuan Yunani tersebut, mereka tidak mengklaim hasil karya peradaban sebelumnya sebagai hasil karya mereka walaupun kondisinya saat itu sangat memungkinkan mengingat Eropa saat itu tidak bisa membaca dan menulis.

Ilmu pengetahuan dan peradaban manusia seperti rangkaian rantai; mereka saling bersambung, saling menguatkan. Ilmu pengetahuan yang belum sempurna di suatu peradaban disempurnakan oleh peradaban berikutnya. Semua kontribusi peradaban harus diakui tanpa harus ada yang disembunyikan.
PhotoGrid_1368347351032-1

Sumber

David Levering Lewis, “God’s Crucible: Islam and the Making of Europe”.
Tamim Ansary, “Destiny Disrupted: A History Of The World Through Islamic Eyes”.
Sardar & Davies, “The Legacy Of Islam: A Glimpse From A Glorious Past”.
S. P. Scott, “The History of Moorish Empire In Europe”.
Thomson, “The Muslims In Andalusia”.

Advertisements

2 thoughts on “Muslim Dan Pelestarian Ilmu Pengetahuan

  1. Membayangkan jika dapat merasakan suasana di baghdad atau kordoba masa itu…

    Pergi ke bayt al hikmah setiap pagi dengan penuh riang semangat, pulang kerumah waktu sore, bermain dengan saudara2 yahudi & kristen tanpa diganggu konflik dunia ataupun memikirkan urusan dunia…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s