Isu Genosida Armenia

Islam adalah ajaran yang sangat lembut dan penuh kasih sayang bahkan saat kondisi berperang. Seperti yang diucapkan Khalifah pertama Abu Bakar ketika melepas pasukan ke Suriah:

“Sungguh saya berwasiat kepadamu dgn sepuluh perkara: jangan sekali-kali kamu membunuh wanita, anak-anak & orang yg sudah tua. Jangan memotong pohon yg sedang berbuah, jangan merobohkan bangunan, jangan menyembelih kambing ataupun unta kecuali hanya untuk dimakan, jangan membakar pohon kurma atau menenggelamkannya. Dan janganlah menjadi seorang yg penakut.”

Etika berperang diatas dilanjutkan oleh khalifah-khalifah setelahnya sampai berakhirnya masa kekhalifahan di tahun 1924 ketika Kekhalifahan Ottoman runtuh. Oleh karena itu selama 1.400 tahun sejarahnya, secara umum penaklukan yang dilakukan oleh peradaban Islam sangatlah beretika, tidak ada pembantaian, lebih bersih dibandingkan penaklukkan yang dilakukan oleh peradaban lain.

Sejarah bersih tersebut, berusaha untuk dikotorkan oleh orientalis barat dengan mengangkat isu genosida Armenia antara tahun 1915-17 di tanah Ottoman saat Perang Dunia I. Saat itu 1-1,5 juta warga Armenia meninggal dalam proses pemindahan mereka dari tempat tinggal asal ke tempat yang baru. Orientalis barat mengatakan bahwa Ottoman telah melakukan genosida atas warga Armenia, benarkah? Seakurat apa pernyataan mereka?

Definisi

Kamus Merriam-Webster mendefinisikan genosida/genocide sebagai:

“The deliberate and systematic destruction of a racial, political, or cultural group.”

Definisi legal genosida yang diakui secara Internasional menurut Convention on the Prevention and Punishment of Genocide pada tahun 1948 adalah:

“Genocide means any of the following acts committed with intent to destroy, in whole or in part, a national, ethnical, racial or religious group, such as:

(a) Killing members of the group;
(b) Causing serious bodily or mental harm to members of the group;
(c) Deliberately inflicting on the group conditions of life calculated to bring about its physical destruction in whole or in part;
(d) Imposing measures intended to prevent births within the group;
(e) Forcibly transferring children of the group to another group.”

Berdasarkan kedua definisi diatas, beberapa kriteria harus ada untuk dapat menyimpulkan suatu kejadian merupakan genosida atau bukan, yaitu:

  1. Intent (niat), deliberate (sengaja), systematic (sistemik). Ketiga kata tersebut bisa diterjemahkan menjadi adanya rencana yang sistematis. Rencana yang sistematis ini biasanya diterjemahkan dalam bentuk dokumen tertulis yang berisi perintah dan strategi genosida.
  2. Grup yang menjadi target. Grup ini bisa berdasarkan nasionalitas, rasial, etnikal, atau keagaaman.
  3. Penghancuran sebagian atau keseluruhan populasi grup bukan cuma 1 atau 2 orang.

Isu Armenia

Sekarang mari kita gunakan ketiga kriteria diatas untuk menilai apakah kemalangan yang dialami oleh warga Armenia pada PD I di Kekhalifahan Ottoman merupakan genosida atau bukan. Untuk lebih gampang, akan ditampilkan perbandingan dengan beberapa genosida yang sudah terbukti dilakukan, rangkumannya adalah sebagai berikut:

Genosida

Kriteria pertama, rencana pembantaian sistematis, rencana ini tidak pernah ditemukan, bahkan yang menuduh Ottoman melakukan tidak bisa menunjukkan bukti adanya rencana pembantaian sistematis ini. Dengan tidak terpenuhinya kriteria pertama, otomatis kriteria kedua dan ketiga menjadi tidak relevan. Absennya kriteria pertama inilah yang membuat masih banyak negara tidak mau atau abstain mengakui genosida  Armenia, termasuk Amerika Serikat.

Jika memang Ottoman berencana melakukan genosida, tentu bukti akan banyak berserakan seperti surat kebijakan, logistik, fasilitas pembantaian, dan lain-lain. Genosida Indian dan Aborigin yang dilakukan peradaban barat yang terjadi 300 tahun sebelumnya saja menyisakan banyak bukti-bukti perencanaan.

Kesimpulan

Ottoman tidak melakukan genosida terhadap warga Armenia karena tidak ada bukti rencana pembantaian sistematis. Saat itu di tahun 1915-1917, Ottoman dan Rusia sedang saling berperang dalam Perang Dunia I. Warga Armenia di Ottoman melakukan pemberontakan dan mempersulit logistik militer Ottoman oleh karena itu mereka dipindahkan ke bagian lain dari kekhalifahan. Dalam perjalanannya banyak warga Armenia yang meninggal karena kelaparan, kecapekan, dan pemberontakan.

Yang menarik, orientalis sangat fokus mengangkat isu genosida Armenia ini untuk mengotorkan sejarah bersih genosida peradaban Islam padahal peradaban Islam sudah dimulai sejak tahun 622 M. Mengapa mereka sangat fokus kepada isu genosida Armenia di 2 tahun masa kekhalifahan Ottoman yang menjelang ujung? Karena mereka tidak bisa menemukan yang seperti ini di masa-masa 1.300 tahun sebelumnya.

Advertisements